Waspadai Dampak Ikutan Anjloknya Saham Wall Street

0
107
Seseorang terlihat lesu mengamati anjloknya sejumlah saham unggulan di Bursa Efek New York

Nusantara,news, Jakarta –  Saham Wall Street kembali anjlok pada Kamis (8/2) kemarin. Pukulan paling parah dialami Dow Jones Industrial Average dan SP & P 500 yang valuasi sahamnya terus anjlok sejak pekan lalu.

Kini Dow Jones kembali terkapar lebih dari 1.000 poin dalam satu pekan terakhir, valuasinya anjlok 4,15% menjadi 23.860. Begitu juga dengan S & P 500 yang turun 100,6 poin atau 3,75% menjadi 2.581. Sedangkan Nasdaq turun 274,8 poin atau 3,9% menjadi 6.777,1.

Kenaikan Suku Bunga

Anjloknya harga saham di Wall Street juga ngembet ke bursa-bursa efek utama di Eropa. Index 100 saham di London ditutup melemah 1,49% menjadi 7.170,69 pon. Begitu juga dengan bursa efek di Jerman dan Perancis yang masing-masing turun 2,6% dan 2%.

Pelemahan itu memperpanjang aksi jual yang dimulai pekan lalu. Tampaknya investor mulai khawatir inflasi yang akan meningkat lebih cepat dari yang diperkirakan, sehingga akan mendorong para pembuat kebijakan menaikkan suku bunga.

Kamis kemarin tampaknya Bank of England setuju dengan pandangan itu. Para pembuat kebijakan di Bank itu yang dalam pertemuan terakhir sepakat tetap mematok suku bunga 0,5% sudah memberikan pertanda akan menaikkan suku bunga. Ekonomi yang menguat berarti suku bunga akan meningkat lebih cepat dari perkiraan pasar.

Pasar juga mulai khawatir terhadap usulan anggaran pemerintah yang telah diumumkan oleh anggota parlemen AS di Kongres, yang akan meningkatkan jumlah pengeluaran dan dapat memicu inflasi.

Imbal hasil obligasi di AS juga meningkat dalam beberapa pekan terakhir – biasanya merupakan signal – tingkat suku bunga yang lebih tinggi. Akibat tingginya suku bunga akan membebani biaya pinjaman bagi perusahaan dan individu yang dapat memangkas keuntungan perusahaan dan mengekang aktivitas ekonomi.

Namun dengan tingginya tingkat suku bunga, sejumlah analis memperkirakan dapat membuat alternatif investasi untuk saham – sebut saja obligasi – lebih menarik.

Shifting Condition

Kenaikan votalitas terjadi karena investor bereaksi terhadap kondisi pergeseran (shifting condition). Bila dihitung dengan penurunan hari Kamis kemarin, berarti Dow Jones dan S & P 500 nilainya turun lebih dari 10 % dari rekor kenaikan tertinggi pada bulan Januari yang disebut analis sebagai koreksi.

Saham perusahaan keuangan, teknologi dan konsumen memimpin penurunan pada hari Kamis yang selanjutnya menular ke setiap sektor. American Express dan Intel mengalami penurunan yang paling parah di Dow Jones.

Namun para analis pasar saham menghimbau investor tidak panik. Sebab itu dalah gejala umum yang wajar setelah dalam waktu jangka panjang mengalami kenaikan. “Penurunan terbaru membawa kita kembali ke posisi harga pada 17 November 2017,” jelas Greg McBride selaku Chief Analyst Bankrate.com yang mempelajari pergerakan saham.

“Kami baru saja mengembalikan beebrapa keuntungan baru-baru ini, tidak menghapuskan tabungan hidup siapa pun,” imbuhnya.

Tapi penurunan yang lumayan tajam itu membuat sejumlah kalangan bertanya kepada Presiden Donald Trump yang sejak tahun lalu hingga pidato kenegaraan terakhir berulang kali membanggakan kenaikan pesat nilai pasar saham di bursa efek negaranya.  Sejauh ini Presiden Trump tidak berkomentar apa pun atas penurunan itu.

Tanggapan justru diberikan oleh staf Gedung Putih. Kamis kemarin mereka berkilah bahwa pasar bereaksi terhadap data yang merupakan kabar baik untuk ekonomi yang lebih luas, termasuk tingkat pengangguran yang rendah dan tanda-tanda kenaikan upah.

“Presiden seperti halnya kami di Gedung Putih lainnya prihatin dengan indikator dan faktor ekonomi jangka panjang,” beber seorang juru bicara Gedung Putih. Namun mereka yakin. “Fundamental dalam hal jangka panjang sangat kuat.”

Pengaruhnya di Inggris

Saat krisis keuangan global pada 2008, Bank of England menurunkan tingkat suku bunga pinjaman secara tajam, dari 5% menjadi 0,%. Kondisi itu terus bertahan hingga akhir 2016 dan bahkan diturunkan lagi menjadi 0,25% sebelum naik lagi menjadi 0,5% pada November 2017.

Kini Bank of England mengisyaratkan kenaikan suku bunga apabila ekonomi tetap berada dalam jalur yang seperti sekarang ini. Padahal sebelumnya para pembuat kebijakan secara bulat telah sepakat suku bunga bertahan pada angka 0,5% pada pertemuan terakhir mereka.

Sebelum diputuskan tetap pada 0,5% para bankir mengingatkan tingkat suku bunga perlu naik. Dengan tingkat kenaikan yang lebih besar dari yang diperkirakan pada pertemuan November. Dan kini para ekonom memprediksi kenaikan suku bunga berikutnya bisa terjadi segera setelah di bulan Mei.

Bank Dunia mencatat ekonomi global berkembang dengan laju tercepat dalam tujuh tahun terakhir. Inggris beroleh manfaat dari pertumbuhan itu. Akibatnya pertumbuhan upah pekerja di Inggris akan mulai meningkat – memberikan daya dorong ekonomi yang lebih jauh.

Terakhir kali, Bank telah menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Inggris menjadi 1,7% tahun ini – dari perkiraan bulan November tahun lalu yang hanya 1,5%. Perkiraan itu berdasarkan pada penyesuaian perekonomian Inggris paska keluar dari Uni Eropa. Sebagai reaksi atas komentar Bank Dunia, nilai pounds meningkat sekitar 1% terhadap Euro.

Namun tingginya suku bunga akan berpengaruh terhadap rumah tangga dan ekonomi. Tercatat sekitar 8,1 juta rumah tangga di Inggris memiliki hipotek. Suku bunga pada hipotek akan cenderung sesuai dengan kenaikan tarif resmi suku bunga yang dibuat Bank of England. Pemegang hipotek ini yang akan dirugikan oleh kenaikan suku bunga.

Sebaliknya, bagi para penabung, kenaikan suku bunga yang diumumkan Bank of England bisa menjadi bonus. Karena bank-bank besar pada umumnya harus menaikkan tingkat suku bunga mengikuti Bank of England. Kenaikan suku bunga terakhir terjadi pada November 2017 – dari 0,25% yang telah berjalan sekitar 10 tahun menjadi 0,5%.

Tentu saja, anjloknya harga saham di Wall Street yang diklaim Gedung Putih karena adanya perbaikan ekonomi di sektor riil pertumbuhan tenaga kerja dan upah itu pengaruhnya juga akan berdampak ke Indonesia. Dan ini yang perlu diantisipasi sepanjang 2018 ini.

Apabila Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga tentu akan meningkatkan nilai tukar dolar AS. Barang-barang asal Indonesia bisa lebih murah. Tapi persoalannya, tingginya utang swasta dalam dolar AS dan ketergantungan bahan baku impor yang juga dibeli dengan dolar AS akan menjadi persoalan tersendiri karena murahnya harga tidak menjadikan barang-barang produksi Indonesia lebih kompetitif di pasar global.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here