Waspadai Paham Radikal Terus Ditebar

0
72
"Waspadai, paham radikal terus ditebar"

Nusantara.news, Surabaya – Harus diwaspadai, penyebaran paham radikal tak henti terus ditebar. Para juru rekrut dengan berbagai jurus terus berpropaganda. Melalui berbagai metode terus gentayangan menarik simpatisan dan pengikut guna memuluskan ajaran radikal ke berbagai elemen masyarakat.

Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat, paham radikal telah menjalar ke 15 provinsi. Termasuk juga menyasar perguruan tinggi, setidaknya ada 39 persen mahasiswa di Indonesia terpapar paham radikal.

“15 provinsi di Indonesia menjadi perhatian serius dan tiga perguruan tinggi menjadi perhatian utama, karena menjadi basis penyebaran paham radikal,” kata Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan,  28 April lalu.

Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius, menyebut badan yang dipimpinnya mendeteksi penyebaran radikalisme juga marak dilakukan melalui media sosial. Masyarakat diingatkan untuk waspada dan berhati-hati mengakses media sosial, termasuk budaya sharing tanpa dicermati. Harus memilah jika menerima informasi melalui media sosial. Karena media sosial saat juga marak disasar jadi alat penyebar paham radikal.

“Jika menerima atau mengakses informasi harus hati-hati, karena saat ini media sosial juga dijadikan alat penyebar paham radikal. Jangan gegabah menyebar informasi,” terang Suhardi.

Disebutkannya, banyak konten di media sosial bermuatan provokasi, menebar kebencian dan permusuhan baik melalui berita-berita hoaks, dan lainnya. Itu memang imbas dari modernisasi teknologi dan pesatnya perkembangan digital akibatnya banyak informasi bertebaran dengan bebas. Masyarakat atau pengguna media sosial diharapkan mampu memilah dan memahami konten isi berita. Ciri berita bohong yang ditebar pelaku biasanya berisi hasutan, menyebar kebencian dan kekerasan, serta memberikan pemahaman jihad yang sempit.

Mewaspadai itu, Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Mohammad Nasih, menyebut mahasiswa di Kedokteran Unair tidak akan sempat mengikuti atau mendalami paham radikal.

Terkait yang disebut BNPT, selain mengapreasisi juga berharap ada data detail, by name by address. “Kami juga akan lebih berterima kasih kalau informasi itu detail, by name by address, jadi bisa dilakukan pembinaan,” ucap M Nasih, Senin (28/5/2018).

Pihak kampus, lanjutnya, mengajar mahasiswa hanya sesuai bidang studi. Seminggu, mahasiswa memiliki beban kuliah 15 jam atau 3 jam, sehari. Selama itu, kegiatan di kampus juga terstruktur dan dalam pengawasan.

Menurutnya, tidak mungkin ada yang terlibat paham radikal, tidak sempat juga karena tidak punya waktu. Mahasiswa, disebutkan banyak mendapat materi juga tugas praktek yang harus diselesaikan.

Cegah Radikalisme Hidupkan Budaya Luhur Bangsa

Untuk mencegahnya masyarakat harus memahami setiap berita yang didapat. Termasuk mengurangi budaya menyebar atau sharing berita yang belum tentu kebenarannya. Karena itu akan meresahkan dan saat ini penegakan hukum telah dilakukan, menindak pelaku karena masuk ranah tindakan radikalisme. Terkait itu BNPT mengapresiasi kepolisian yang melakukan penindakan dan penangkapan tersangka penyebar hoaks.

“Kita mendukung pihak kepolisian untuk melakukan penegakan hukum, dengan menindak pelaku penyebar berita hoaks,” tambahnya.

Sementara, Kabareskrim Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto menyebut sedikitnya ada lima tersangka ditindak terkait penyebaran berita hoaks dan provokasi, dikenal dengan “The Family Muslim Cyber Army” (MCA). Mereka juga tergabung dalam grup whatsapp MCA. Kemudian ditangkap di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Pangkal Pinang, Bali, Sumedang dan Palu. Lantaran terbukti menyebarkan isu provokatif dan menyebarkan berita bohong terkait isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), melalui whatsapp.

Radikalisme Masuk Perguruan Tinggi

“Paham radikal menjalar ke 15 provinsi, perguruan tinggi dan 39 persen mahasiswa terpapar”

Penyebaran paham radikal berisi ajaran dan ajakan teror tersebar sistematik dan semakin mengkhawatirkan, termasuk masuk ke lembaga pendidikan dan perguruan tinggi. Mahasiswa gampang menjadi target penyebaran paham radikal, karena pelaku memahami dan bisa memanfaatkan kepolosan secara psikologis mahasiswa muda yang dalam proses pencarian jati diri. Contohnya, Bahrun Naim adalah salah satu pemuda yang mulai melibatkan diri dengan kegiatan radikal saat kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Untuk mengontrolnya, peran perguruan tinggi termasuk rektor harus berperan aktif melakukan pengawasan, pencegahan dan deteksi dini. Komjen Pol Suhardi menyebut, penyebaran paham radikal di kampus salah satunya bermula dari deteksi yang didapat saat Deklarasi Khilafah di sebuah kampus di Jabar.

Cara mencegahnya, perguruan tinggi harus meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas organisasi kampus dan mahasiswa yang tergabung di organisasi kemahasiswaan eksklusif. Termasuk memperketat proses perekrutan tenaga pendidik. Karena dimungkinkan melalui para intelektual termasuk dosen penyebaran paham radikal bisa dengan cepat meluas. Tersebarnya paham radikal tidak hanya dipicu faktor kemiskinan, kebodohan, kekecewaan atau ketidakadilan.

Semua elemen juga harus berkoordinasi, jika di perguruan tinggi melalui Kementerian Dikti. Peran guru, dosen, rektor, dekan dan kaum intelektual juga harus memperhatikan siswa atau mahasiswa, utamanya yang memiliki perangai ganjil atau menyimpang. Misalnya, jika ada mahasiswa tengah menyendiri, tertutup, harus diwaspadai. Harus didekati dan diberi perhatian.

Dicontohkan, banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di Turki, kemudian dideportasi karena terindikasi menjadi pengikut paham radikal. Guna mengatasi semakin banyaknya pemuda terpapar radikal, salah satunya dengan memberikan pemahaman tentang sejarah bangsa. Karena saat ini banyak para pemuda sudah mengabaikan sejarah bangsanya. Termasuk mereka tidak lagi peduli dan hafal nama pahlawan. Tak sedikit para pemuda juga meninggalkan adat istiadat daerahnya, ini sangat berbahaya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here