Waspadai Penguatan Rupiah yang Over Dosis

0
311
Penguatan nilai tukar rupiah yang terlalu cepat terhadap dolar AS patut diwaspadai, karena penguatan ini di dorong oleh masuknya hot money.

Nusantara.news, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam rentang perjalanan dua minggu terakhir menguat signifikan. Dari posisi terlemahnya sejak 1998 di level Rp15.260 kini rupiah beranjak menguat ke level Rp14.500. Bahkan dalam satu dua terakhir rupiah kembali melemah signifikan.

Apakah rupiah memasuki era penguatan yang berkelanjutan atau justru memasuki era fluktuasi yang liar? Keanehan penguatan rupiah yang terlalu cepat ini, apakah positif atau negatif buat perekonomian ke depan?

Tidak bisa dipungkiri derasnya arus modal masuk dalam jumlah besar telah membuat mata uang garuda ini perkasa. Bahkan dibandingkan dengan mata uang utama dunia lainnya, rupiah termasuk yang memiliki kinerja terbaik setidaknya dalam dua pekan terakhir.

Rupiah perlahan namun pasti, dalam dua pekan terakhir menguat rerata lebih dari Rp100 poin per hari. Sehingga secara kumulatif rupiah menguat hingga 1% terhadap dolar AS dalam rentang waktu tersebut, dinilai terlalu cepat.

Khusus pagi ini, rupiah di pasar spot sempat bertengger di level yang kuat Rp14.500 atau menguat 0,51% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Bahkan ketika ditutup rupiah menguat lagi ke posisi Rp14.439 per dolar AS.

Gerak rupiah hari ini agak aneh. Mengawali hari, rupiah melemah 0,14%. Kemudian pelemahan rupiah semakin dalam hingga mencapai 0,58%. Rupiah pun sempat merasakan status sebagai mata uang terlemah di Asia.

Namun jelang tengah hari semua berubah. Rupiah berbalik arah, pelemahannya semakin tipis dan bahkan mampu menyentuh zona hijau.  Selepas tengah hari, rupiah semakin beringas. Dari mata uang terlemah, rupiah meroket menjadi yang terbaik di Benua Kuning.

Arus modal yang mengalir ke pasar keuangan Indonesia menjadi obat kuat mujarab bagi rupiah. Pada pukul 14:55 WIB, nilai beli bersih investor asing di pasar saham mencapai Rp916,93 miliar yang membantu Indeks Harga Saham (IHSG) menguat 0,71%.

Sementara di pasar obligasi pemerintah, imbal hasil (yield) masih cenderung turun yang menandakan harga instrumen ini sedang naik.

Ada beberapa waktu yang bisa menjelaskan mengapa rupiah menguat begitu tinggi terhadap dolar AS dalam dua pekan terakhir. Pertama, dalam pemilu sela di Amerika Serikat sejak awal publik menduga Partai Demokrat akan menang terhadap Partai Republik, hari ini dugaan publik itu terkonfirmasi dan Partai Demokrat tampil sebagai pemenang dalam pemilihan umum sela tersebut.

Hal ini tentu saja membawa konsekuensi akan menyulitkan Presiden Donald Trump asal Partai Republik. Program kerjanya kapan saja bisa dijegal oleh Partai Demokrat di parlemen, dan ini adalah isyarat buruk buat dolar AS, sehingga greenback melemah terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia. Tanpa kecuali mengalami pelemahan signifikan.

Kedua, di tengah isu kekalahan Partai Republik, Presiden Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xie Jin Ping untuk meredakan perang dagang. Hal ini tentu saja membuat dolar AS melemah terhadap mata uang utama dunia.

Ketiga, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berpendapat pemberlakuan fasilitas non delivery forward global (NDF) dan lokal (DNDF) berhasil memancing uang global masuk kembali ke tanah air, sehingga cadangan devisa bulan Oktober 2018 kembali naik ke level US$115,4 miliar.

Tentu saja berbagai alasan rupiah menguat itu tidak terlalu penting, yang terpenting adalah rupiah kembali menguat. Ha ini adalah kabar gembira yang harus disyukuri, hanya saja karena penguatannya terlalu cepat dikhawatirkan akan membahayakan ekonomi ke depan.

Ada beberapa fakta yang perlu dicatat terkait penguatan rupiah yang terlalu cepat tersebut. Pertama, penguatan rupiah yang terlalu cepat ini tentu ada sesuatu yang salah (something wrong), karena masalah struktural perekonomian belum diselesikan. Seperti laju pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor, sehingga menimbulkan defisit yang terus melebar.

Kedua, masuknya dana asing ke Indonesia bersifat uang pana (hot money) yang setiap saat bisa masuk disaat yang lain bisa pergi dengan cepat (easy come, easy go). Kalau dua pekan terakhir mudah masuk, bisa saja disaat yang lain mudah keluar lagi.

Ketiga, sentimen positif meredanya perang dagang AS dengan China, bisa saja berubah panas lagi lantaran figur Donald Trump yang meledak-ledak setiap saat bisa kembali menaikkan tarif bea impor barang-barang China.

Keempat, asing memborong saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sudah mulai jatuh. Ketika harga sudah terlalu murah, asing pandai mengoleksi saham-saham bluechips, untuk kemudian dimasa yang akan datang dilepas kembali untuk merealisasi profit taking.

Kelima, defisit transaksi perdagangan (current account defisit—CAD) pada kuartal III diperkirakan membengkak hingga 3,5% terhadap produk domestik bruto (PDB). Walaupun di kuartal ke IV akan turun kembali, namun dampak terhadap rupiah tidak cukup baik.

Keenam, Badan Koordinasi Penanaan Modal (BKPM) diketahui merevisi target investasi tahun ini menjadi hanya Rp730 triliun. Angka itu 4,57% lebih rendah dari target semula yang mencapai Rp765 triliun, merupakan isyarat yang buruk buat pasar terhadap rupiah.

Ketujuh, kalau boleh dikatakan, penguatan dan pelemahan rupiah yang begitu cepat nyaris bergerak sesuai dengan kehendak pasar. Peran kebijakan BI maupun pemerintah hanya mampu menahan sesaat untuk kemudian pasar bergerak sesuai nalurinya sendiri. Itu sebabnya potensi rupiah menguat terus masih tinggi, sebagai mana potensi rupiah berbalik arah melemah kembali juga masih relatif tinggi.

Berdasarkan penjelasan fenomena menguatnya rupiah terlalu cepat memang patut disyukuri sekaligus diwaspadai. Karena memang masih banyak faktor X yang belum terdeteksi baik oleh BI maupun pemerintha, regulator hanya bisa menciptakan kendali pelemahan atau penguatan sesaat. Selebihnya pasar yang menentukan rupiah menguat atau melemah.

Itu sebabnya, peran BI dan pemerintah yang diharapkan ke depan adalah menemukan penyebab pasti rupiah melemah atau menguat. Hingga akhirnya pergerakan rupiah bisa lebih stabil, ini sebenarnya yang dibutuhkan pasar. Stabilitas inilah yang hilang dalam 20 tahun terakhir.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here