Waspadai Peredaran Uang Palsu di Tahun Politik

0
95
Ilustrasi uang palsu (Foto: Sorot Media Nusantara)

Nusantara.news, Kota Malang – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serentak di berbagai daerah memang membutuhkan biaya besar, baik bagi penyelenggara maupun peserta Pilkada. Uang yang beredar di daerah yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2018, termasuk satu di antaranya Kota Malang, memang besar.

Di satu sisi, besarnya jumlah uang yang beredar akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kota Malang. Tapi di sisi lainnya perlu juga diwaspadai peredaran uang palsu yang diedarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.  

Berdasarkan informasi dan keterangan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Tahun 2017 ditemukan 5.385 lembar uang palsu. Jumlah ini turun sekitar 15 persen. Sedangkan di tahun 2016 ditemukan uang palsu sebanyak 6.320 lembar.

Tahun kemarin peredaran uang palsu dengan rinician sebanyak 5.385 lembar uang palsu yang didominasi pecahan Rp 100 ribu sebanyak 3.339, lalu pecahan Rp 50 ribu sebanyak 1.885 lembar, dan sisanya pecahan lain beredar di kawasan Malang.

Data-data itu mestinya membuat masyarakat waspada terhadap peredaran uang palsu, terlebih saat Pilkada yang memang membutuhkan biaya politik tidak sedikit. Untuk mencegah peredaran uang palsu, KPwBI Malang berencana menggiatkan sosialisasi pengenalan keaslian uang ke masyarakat.

Ketua Tim Sistem Pembayaran, Peredaran Uang Rupiah, Layanan dan Administrasi KPwBI Malang, Rini Mustikaningsih menjelaskan bahwa pihak KpwBI Malang akan bergerak masif selama dua tahu ini untuk mengurangi terjadinya fenomena peredaran uang palsu.

“Iya dalam dekat ini akan terus kami menggiatkan sosialisasi keaslian uang kepada masyarakat, agar masyarakat tahu mana yang palsu dan mana yang asli. Hal ini juga setidaknya dapat mencegah beredarnya uang palsu,” jelasnya kepada wartawan, Selasa (23/1/2018).

Pihaknya akan terus menggencarkan sosialisasi pengetahuan uang asli dan palsu. “Tetap dengan cara 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang) secara masif akan merangsang pengetahuan masyarakat, dengan begitu beredarnya uang palsu tersebut d apat ditekan,” pungkasnya.

Rini pun menjelaskan ciri-ciri uang asli dan palsu secara detail kepada wartawan. “Uang Rupiah asli memiliki ciri-ciri berupa tanda-tanda tertentu yang bertujuan menghindari pemalsuan. Secara umum, ciri-ciri keaslian uang Rupiah dapat dikenali dari unsur pengaman yang tertanam pada bahan uang dan teknik cetak yang digunakan,” jelasnya.

Adanya Pengaman seperti tanda air dan electrotype, benang pengaman, cetak imtaglio (cetak kasar), gambar saling isi (rectoverso), tinta berubah warna, tulisan mikro, tinta tidak tampak dan ada gambar tersembunyi yang menjadi ciri khas uang tersebut.

“Jika tidak ada salah satu ciri diantaranya, maka dapat diragukan keasliannya,” tandasnya.

Ia menegaskan bahwa tanda-tanda fisik uang itu bisa dikenali secara gampang memakai 3D.Selain itu, untuk meminimalkan peredaran uang palsu, pihak BI menyarankan agar transaksi memakai non-tunai.

Pihaknya menyarankan untuk berhati-hati terait peredaran uang palsu di tahun politik yakni 2018-2019 ini.  Karena, sebelumnya ditemukan kasus peredaran uang palsu di momen pemilihan langsung.

Di Kota Malang sendiri dalam tahun ini dan satu tahun mendatang, tepatnya 2018-2019 akan ada Pilkada serentak, yakni Pilkada Kota Malang, Pilgub Jawa Timur, yang kemudian di tahun 2019 akan diadakan Pemilu Pilpres dan Pileg Kota Malang.

Dua tahun momentum demokrasi besar tersebut pastinya akan membuat para kandidat yang berpartisipasi didalamnya mengeluarkan uang untuk kerja-kerja politik. Baik untuk logistik, program-program dan kegiatan kampanye guna memnarik perhatian masyarakat untuk memilih. Beredarnya uang tersebut yang perlu diwaspadai dan lebih jeli serta teliti dalam menerima uang.

Rini berharap di tahun 2018-2019 yang merupakan tahun rawan beredarnya uang palsu tersebut, jumlah peredaran uang palsu dapat ditekan, dibandingkan di tahun sebelumnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here