Waspadai Propaganda Israel di Balik Isu Penobatan Bin Salman

0
319
Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman al Saud diantara para pangeran Arab Saudi lainnya

Nusantara.news, Riyadh – Pekan depan, Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman akan ditetapkan sebagai Raja Arab Saudi yang baru seiring mundurnya Raja Salman bin Abdul Aziz al Saud. Kabar itu terungkap lewat pemberitaan Daily Mail Online yang mendapatkan sumber dari keluarga dekat kerajaan.

Sumber itu mengungkap, Raja Salman yang naik tahta pada 23 Januari 2015 itu hanya akan berperan sebagai tokoh seremonial. Selanjutnya Raja Salman yang sebelumnya menggantikan saudara tirinya Raja Abdullah bin Abdul Aziz al Saud itu mewariskan tahtanya kepada putranya, Mohammed bin Salman al Saud (MBS) yang baru berusia 32 tahun.

“Kecuali ada sesuatu yang dramatis terjadi, hampir dipastikan Raja Salman akan mengumumkan penunjukan MBS sebagai Raja Arab Saudi pekan depan,” ungkap sebuah sumber kalangan dekat kerajaan sebagaimana diberitakan Daily Mail pada Jumat (17/11) pekan lalu.

Setelah itu, lanjut sumber itu, Raja Salman akan berperan seperti Ratu Inggris. Dia hanya akan berperan sebagai penjaga dua kota suci, Mekkah dan Madinah.

Kisah Raja-Raja

Dengan mundurnya Raja Salman, game of throne di Kerajaan Arab Saudi yang dimainkan Pangeran Mahkota dengan dukungan ayahnya berakhir. Patut dicatat, sejak Arab Saudi didirikan oleh Ibnu Saud pada 22 September 1932, baru dua kali tahta di Arab Saudi jatug dari ayah ke anak kandungnya.

Pertama tentu saja Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud  yang mewariskan tahta kepada Raja Saud bin Abdul Aziz al Saud putranya.  Setelah itu tahta kerajaan jatuh ke saudara-saudaranya sendiri. Namun Raja Saud yang naik tahta di hari wafatnya sang ayah pada 9 November 1963 digulingkan oleh saudaranya sendiri pada 2 November 1964.

Setelah itu Faisal bin Abdul Aziz al Saud menjadi Raja dan dibunuh di usianya yang ke-68 pada 25 Maret 1975. Penggantinya masih saudara tirinya, Raja Khalid yang wafat di usianya 69 pada 13 Juni 1982. Setelah itu dia digantikan saudara tirinya Raja Fahd yang wafat di usia 84 pada 1 Agustus 2005. Raja Fahd digantikan oleh Raja Abdullah yang wafat di usianya ke-90 pada 23 Januari 2015.

Sebenarnya, Raja Salman sendiri sebelumnya bukan Pangeran Mahkota. Dia sudah menjabat Gubernur Riyadh selama 48 tahun, sejak 1963 hingga 2011. Keberuntungan menghampirinya saat Pangeran Mahkota Nayef bin Abdul Aziz al Saud wafat pada 2012. Salman yang juga Deputi Pangeran Mahkota naik pangkat menjadi Pangeran Mahkota.

Setelah duduk di singgasana Raja Salman mengangkat saudara tirinya, Pangeran Muqrin bin Abdul Aziz al Saud sebagai Pangeran Mahkota. Tapi pada 29 April 2015 Raja Salman mencopotnya sekaligus mengangkat keponakannya Muhammed bin Nayef sebagai Pangeran Mahkota. Namun pada Juli 2017 Mohammed bin Nayef pun dicopot dan digantikan oleh anaknya sendiri Mohammed bin Salman.

Dengan demikian, Salman adalah raja kedua di Arab Saudi yang mewariskan tahta ke anak kandungnya. Salman yang lahir pada 31 Desember 1935 lahir saat ayah kandungnya, Abdul Aziz bin Abdul Rahman al Saud berusia hampir 61 tahun. Dan MBS sendiri yang kelahiran 31 Agustus 1985 lahir saat usia ayahnya hampir 50 tahun.

Oposisi Tersembunyi

MBS memiliki ambisi yang besar untuk memodernisasi Arab Saudi. Pertama-tama yang akan menjadi musuhnya adalah kaum muslim puritan yang selama ini diberi tugas mengatur kehidupan masyarakat. Diversifikasi ekonomi Arab Saudi yang tak lagi mengandalkan minyak sudah ditetapkan dalam program Visi 2030. Untuk itu MBS bertekad mengembalikan Arab Saudi menjadi kerajaan yang moderat di Jazirah Arab.

Penting pula dicatat, Arab Saudi telah dua kali mengalami suksesi yang tidak mulus. Pertama, soal penggulingan Raja Saud bin Abdul Aziz oleh saudara tirinya sendiri, Raja Faisal bin Abdul Aziz yang akhirnya juga tewas terbunuh yang hingga kini pelakunya tidak terungkap. Paling tidak, riwayat kekerasan dalam suksesi Arab Saudi pernah dua kali terjadi.

Mungkin karena adanya riwayat kekerasan itu, Pangeran Mahkota MBS dengan dukungan kewenangan dari ayahnya saat ditunjuk menjadi Ketua Komite Pemberantasan Korupsi Arab Saudi segera bertindak dan menangkap setidaknya 40 pangeran, termasuk pangeran tajir Alwaleed bin Talal. Meskipun di dalam kerajaan Alwaleed tidak begitu dianggap namun kekuatan hartanya sangat menakutkan.

Langkah itu sebagai pengamanan MBS yang visinya disebut-sebut didukung oleh generasi milenial Arab Saudi. Namun perlu diingat bisa jadi pula Pangeran-Pengeran yang sakit hati itu sukses membangun oposisi tersembunyi dengan kaum puritan yang kewenangannya ikut-ikutan dihabisi oleh MBS. Oposisi tersembunyi inilah yang akan menjadiancaman utama MBS.

Tampaknya MBS juga sudah mengantisipasi kemungkinan ini. Sentimen anti-Syiah dengan sasaran utama Iran akan terus dihidupkan.  Peperangannya dengan Yaman yang didukung oleh kaum Syiah yang sbenarnya sulit dimenangkan akan terus dilanjutkan. Tindakan-tindakan itu sebagai upaya menciptakan common enemy bukan saja Arab Saudi, melainkan juga di Jazirah Arab. Qatar yang selain diaanggap pesaing dan sering membangkang akan dikucilkan.

MBS yang diduga kuat mendapatkan dukungan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berkepentingan perusahaan minyak Aramco listing di Wall Street akan berusaha mengendalikan jazirah Arab dari incaran Rusia dan China. Iran dan Suriah yang dianggap sebagai penyusup Rusia di Jazirah Arab akan dihabisi perannya di Timur Tengah.

Propaganda Israel

Menteri Energi Israel Yuval Steinitz, sebagaimana ramai diberitakan oleh berbagai sumber, menyebut negaranya diam-diam menjalin hubungan dengan Arab Saudi yang merasa khawatir terhadap Iran. Namun pernyataan itu belum mendapatkan tanggapan, baik dari pemerintah Arab Saudi maupun pemerintah Israel itu senidri.

Berdasarkan wawancaranya dengan Army Radio sebagaimana dikutip Reuters, Senin (20/11), Steinitz yang juga anggota Kabinet Perdana Menteri Benyamin Netanyahu tidak merinci secara detail kontak seperti apa yang dimaksud, dan Steinitz juga enggan mengungkap kenapa Israel menyembunyikan hubungan gelapnya dengan Arab Saudi.

“Pihak lainlah yang tertarik menyembunyikan hubungan ini. Dengan kami, biasanya, tidak ada masalah, tapi kami menghargai keinginan pihak lain, ketika hubungan itu berkembang, baik itu dengan Arab Saudi maupun negara-negara Arab lain atau negara Muslim lain dan masih banyak lagi … tapi kami tetap merahasiakannya.”

Mengutip sumber dari kerajaan Arab Saudi itu sendiri, dan kemungkinan ini sebagai propaganda oposisi yang tersembunyi di kerajaan kaya minyak itu, begitu dilantik menjadi Raja, MBS akan minta bantuan militer Israel untuk menghancurkan Hizbullah, milisi Lebanon yang didukung Iran.

“MBS telah yakin bahwa ia harus menghancurkan Iran dan Hizbullah. Bertentangan dengan nasihat yang diberikan oleh para tetua kerajaan, itulah sasaran MBS berikutnya. Karenanya penguasa Kuwait secara pribadi memanggilnya ‘banteng yang sedang mengamuk’,” ujar sumber itu.

Memang, informasi yang sepenuhnya mengandalkan sumber anonym yang katanya dari dalam keluarga kerajaan tidak sepenuhnya dapat dipercaya. Bisa jadi itu bagian dari propaganda oposisi yang tersembunyi. Bisa jadi pula propaganda Israel yang berkepentingan melanggengkan instabilitas di Timur Tengah, khususnya Jasirah Arab..

Belum tentu juga Raja Salman akan mengunduran diri dalam waktu dekat ini. Dan apabila memang benar-benar mundur banyak hal yang perlu dicermati, apakah MBS dapat mengatasi segala permasalahan, baik program-program modernisasinya maupun kekuatan dirinya dalam mengatasi oposisi tersembunyi yang biasa terjadi di negara-negara monarki absolut seperti Arab Saudi,{]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here