Waspadalah, Trumpet’s Trump sudah Ditiup

0
1429
Karikatur diambil dari pinterest

Nusantara.news – Unggahan video bocah-bocah kecil yang menyodor-nyodorkan kertas karton bertuliskan “Om Telolet Om” kepada sopir bus di Jepara, Jawa Tengah, mendapatkan tanggapan heboh dari para selebritis dunia.  Bangga juga sih, Indonesia dikenal dunia

Tapi saya tidak akan mengulas Om Telolet Om yang sudah pasti basi. Sedangkan tiupan trumpet Trump masih hangat-hangatnya bergema dariCapitol Hill, AS, sejak 20 Januari lalu. Sejumlah janji kampanyenya seperti penghapusan Obama Care (yang kini mendorong munculnya perdebatan di Senat), keluar dari Trans Pasific Partnership (TPP) dan pembangunan  great wall AS-Meksiko sudah menggemparkan dunia. Apalagi kalau  sampai diwujudkan menjadi kebijakan.

Sejauh ini, tampaknya Trump serius keluar dari TPP. Padahal TPP  yang melibatkan 12 negara yang tidak melibatkan Cina dengan kekuatan ekonomi 40 % dunia, dianggap Presiden Obama sebagai pintu masuk AS menguasai perdagangan Asia. Tapi Trump berpandalangan lain. “Kita baru saja menghentikan perjanjian perdagangan yang tidak masuk akal, perjanjian yang telah membuat pekerja dan perusahaan-perusahaan keluar dari negara kita,” ujar Trump sebagaimana dikutip Reuters.

Meskipun sejumlah negara yang bergabung ke TPP seperti Australia dan Selandia Baru berkomitmen melanjutkan TPP tanpa AS, namun Jepang, negara pertama yang meratifikasi TPP dalam UU dalam negerinya pesimis. Tanpa keikut-sertaan AS yang memiliki kekuatan ekonomi nomer satu dunia dan berpenduduk sekitar 300 juta jiwa, TPP tak ada artinya. Terlebih bila Australia menggandeng Cina dan Indonesia untuk menggantikan peran AS, tentu ini akan berlawanan dengan geo-strategy Jepang yang selalu ingin mengungguli persaingannya dengan Cina.

Tanpa kehadiran AS, keinginan Presiden Joko Widodo masuk ke TPP supaya tidak terlalu dianggap berpihak ke Cina juga kehilangan alasan mendasarnya kalau ternyata TPP nantinya dipimpin oleh Cina. Bagi Australia mungkin gagasan mengajak Cina hanya sebagai gertak sambal yang mengusik kecemburuan AS, dan AS di bawah Trump menghentikan niatnya keluar dari TPP.

Padahal sejak semula, ke-12 negara pendiri TPP memang berkomplot membuat kriteria-kriteria yang menolak kehadiran Cina. Mungkin negara-negara itu sudah cemas dan khawatir Cina yang berpenduduk terbesar dunia justru lebih mendominasi perdagangan yang lebih menyengsarakan kepentingan nasionalnya. Bagaimana bisa bersaing secara bebas dengan Cina kalau barang-barang made in Cina lebih murah dari barang-barang buatan pabriknya?

Itulah Trumpet Trump pertama yang membuat kerjasama ekonomi kawasan Pasifik yang melibatkan Australia, Jepang, Kanada, Singapura, Brunei Darussalam, Selandia Baru, Chili, Peru, Malaysia, Vietnam dan Meksiko berantakan. Tanpa kehadiran AS dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia dan penduduk 300-an juta jiwa, TPP akan kehilangan tajinya. Masak sihuntuk menggantikannya lalu mengajak Cina yang sudah mereka musuhi sejak gagasan itu dibuat tahun 2010 lalu?

Trumpet Trump yang tidak kalah memekakkan telinga adalah pernyataannya yang akan menghapus Affordable Care Act (Undang-Undang Perlindungan Pasien dan Perawatan Kesehatan Terjangkau,) atau lebih dikenal dengan nama Obama Care. Sejauh ini program yang menyasar 20 juta warga miskin Amerika dianggap berhasil, bahkan oleh senator-senator Republik seperti McCain yang menjadi pesaing Obama dalam Pilpres 2012. Maka penghapusan Obama Care sudah pasti akan mendapatkan penentangan yang gigih di dalam negerinya. Bahkan ada yang menyarankan negara-negara bagian AS tidak menghapus Obama Care meskipun UU itu nantinya dihapus oleh pemerintah Federal.

Bahkan penghapusan Obama Care menjadi perintah eksekutif petamanya setelah dia dilantik menjadi Presiden AS.  Obama Care sendiri adalah program asuransi yang dibiayai oleh negara dengan sasaran 16 persen warga miskin Amerika yang tidak dilindungi oleh asuransi kesehatan umum dan asuransi ketenaga-kerjaan. Tapi oleh Trump program itu hanya dianggap sebagai pemborosan uang negara.

Perintah eksekutif pertama Trump, tutur Ketua Staff Gedung Putih Reince Priebus sebagaimana dikutip dari the Guardian, bertujuan meminimalisasi beban ekonomi dari Affordable Care Act 2010. Dalam petikan perintah eksekutifnya Trump menulis, “penting bagi lembaga eksekutif  untuk melakukan seluruh langkah konsisten dengan hukum demi meminimalisasi beban regulasi dan ekonomi yang tidak beralasan dari UU itu dan bersiap untuk memberikan aturan yang lebih fleksibel dan terkontrol dalam menciptakan layanan kesehatan yang lebih terbuka dan bebas.”

Pembersihan terhadap warisan Obama lainnya diperkirakan akan terus berlanjut. Setelah Obama Care, TPP, Trump diperkirakan akan menyapu kebijakan yang menyangkut perubahan iklim, energi, perjanjian dengan mitra dagang, dan lainnya. Termasuk hubungan mesranya dengan Rusia yang akan mengubah geo politic dan geo strategy Eropa Timur, khususnya Ukraina dan konflik Suriah.

Belum lagi kebijakan ekonomi yang ingin menarik pulang dolar AS yang bertebaran di seluruh dunia, termasuk Indonesia, melalui kebijakan menaikkan suku bunga the Fed, tentu memiliki implikasi ekonomi yang tidak bisa dianggap enteng oleh pemerintah kita. Kebijakan itu tentu akan membuat nilai rupiah kita tertekan. Gubernur Bank Indonesia tentu sumber dayanya akan menjadi sangat terbatas bila setiap saat harus intervensi untuk membuat stabil nilai rupiah yang bergoyang-goyang.

Itulah sebenarnya tantangan ekonomi yang perlu penyikapan segera. Belum lagi menghadapi Trumpet-trumpet  Trump dalam bentuk perintah eksekutif lainnya yang diramalkan lebih proteksions dan mengutamakan kepentingan dalam negerinya yang mungkin akan sangat mengganggu ekspor kita ke negeri Paman Sam.

Apalagi selama ini AS adalah penyumbang surplus terbesar dalam neraca perdagangan RI dengan sejumlah negara. Per Oktober 2016, perdagangan Indonesia ke AS mencatat surplus USD 6,94 miliar. Surplus perdagangan terbesar kedua adalah dengan India, USD 5,7 miliar dan ketiga dengan Belanda USD 1,91 miliar. Sedangkan dengan Cina kita lebih banyak ruginya.

Sudah pasti, bila ekspor barang-barang Indonesia ke Amerika terganggu oleh kebijakan ekonomi yang proteksionis maka akan memukul industri garment dan sejumlah barang kerajinan (craft) yang selama ini diekspor ke Amerika dan Uni Eropa. Maka, benar kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, kita perlu waspada.

Trumpet Trump memang sumbang. Tak ada merdu-merdunya. Tapi Trumpet Trump sesungguhnya membangkitkan momentum kesadaran kita sebagai negara-bangsa, agar pemerintahan Pak Jokowi yang sedang berkuasa membuat kebijakan ekonomi yang lebih berdaulat dan tegas menjaga kepentingan nasional kita.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here