Watak “Brake Tapper” Gagalkan Pertemuan Kim-Trump

0
107
Coin sebagai cendera mata sudah dibuat oleh Gedung Putih namun pertemuan terancam gagal

Nusantara.news, Washington – Awalnya menggebu-gebu, tiba-tiba berhenti mendadak, itulah watak brake-tapper dari kedua pemimpin yang membuat kemungkinan tertundanya Konferensi Tingkat Tinggi antara Korea Utara Vs AS dan Korea Selatan. Istilah brake tapper hanya ada dalam kamus urban (urban dictionary) untuk menjelaskan watak – seperti orang kebelet nikah tapi begitu tahu konsekuensinya tiba-tiba ingin membatalkan pernikahannya.

Memang, pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J Trump dan pemimpin Korea yang “telanjur menyebarkan undangan” akan diselenggarakan 12 Juni 2018, pada akhirnya ditunda – paling tidak sulit dilakukan di bulan Juni. Padahal sebelumnya Presiden Trump yang menghadapi persoalan dalam negeri yang “tidak sudah-sudah” – kata orang Palembang – begitu ngebet ingin menciptakan sejarah bertemu dengan pemimpin Korea Utara.

Brake Tapper

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J Trump dalam berbagai kesempatan menyebutkan ada “peluang sangat besar” menyelenggarakan pertemuan puncak bersejarah itu. Namun tiba-tiba Trump mengumumkan kepada wartawan, pertemuan tidak bisa segera diselenggarakan pada tanggal maupun bulan sebagaimana yang direncanakan.

Trump mengumumkan penundaan pertemuannya dengan Kim

Trump kembali mengingatkan, pertemuan hanya bisa terjadi apabila Korea Utara benar-benar menyepakati syarat-syarat yang sudah oleh ditentukan Washington.  Demikian pernyataan Trump saat menerima Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Gedung Putih, Selasa Pahing (22/5) kemarin.

Korea Utara sendiri sudah memberikan isyarat, pihaknya akan membatalkan pertemuan jika AS bersikeras melucuti senjata nuklir negaranya secara sepihak. Trump enggan menjelaskan kondisi apa yang sudah ditetapkan AS untuk konferensi tingkat tinggi (KTT). Namun saat ditanya seorang wartawan tentang gudang senjata di Korea Utara, Trump menjawab, “denuklirisasi harus terjadi.”

KTT yang sudah dijadwalkan pada tanggal 12 Juni berlangsung di Singapura – ini mengikuti pertemuan bersejarah kedua pemimpin Korea pada bulan April lalu. Kala itu Moon Jae-in dan Kim Jong-un tampak mesra. Bahkan sejumlah media menyebutkan,banyak warga negara Korea Selatan yang memiliki nama Kim Jong-un. Karena memang, negara yang pecah akibat Perang Korea (25 Juni 1950 – 27 Juli 1953) secara etnis bukan hanya satu rumpun – melainkan masih satu “rumpon” – istilah untuk rumah ikan.

Sebelumnya Trump memang banyak membahas tentang KTT bersejarah itu. Tentang syarat terjadinya KTT Trump hanya mengatakan, “kami akan melihat apa yang akan terjadi.” Dan menambahkan: “Ada kondisi tertentu yang kami inginkan dan saya pikir kami akan mendapatkan kondisi itu dan jika tidak, maka kami tidak memiliki pertemuan.”

“Anda memiliki kesepakatan yang 100% pasti – (tapi kenyataannya) tidak terjadi. Atau Anda masuk ke transaksi yang tidak ada peluang dan itu terjadi, dan, kadang-kadang, terjadi dengan mudah,” terang Trump tentang kelanjutan pertemuan dengan Kim Jong-un.

Presiden Trump juga menengarai sikap Kim Jong-un juga sudah berubah sejak kunjungan keduanya ke China, awal Mei ini. Di tempat lain – di hari yang sama – Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menilai positif pertemuan Xi Jinping dan Kim Jong-un, sekaligus menegaskan pihaknya masih bekerja menjelang pertemuan 12 Juni.

Mantan Direktur Central Intelligent of America (CIA) itu bahkan memuji China yang telah menawarkan “bantuan bersejarah” dalam memberikan tekanan kepada Korea Utara. Karena sejak presiden AS sebelumnya tidak pernah berunding secara resmi dengan dua pemimpin Korea  sebelumnya – Kim Jong-il dan Kim Il-sung.

Menanggapi tertundanya pertemuan itu, wartawan BBC Asia Barbara Plett Usher memberi judul “Brakes Tapped” dalam analisis beritanya. Brakes Tapped berasal dari idiom Brake Tapper – atau pengemudi yang sedang mengebut tapi tiba-tiba ngerem mendadak karena hampir menabrak di depannya (Urban Dictionary). Dengan kata lain sebagai sindiran – hanya menggebu-gebu di awal tapi tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Takut Digaddafikan

Suasana optimisme sudah dibangun oleh kedua negara akan mencapai pertemuan puncak – cepat atau lambat. Tapi mendadak Kim menginjak rem, tidak setuju menerima “tuntutan sepihak” dari AS untuk melucuti persenjataannya. Presiden Trump juga atret ke belakang, mengatur kondisi yang tidak pernah diungkapkan seperti apa pastinya. Trump hanya menekankan, pantas bagi pemimpin Korea itu mengambil resiko denuklirisasi, atau dengan kata lain melempar bola panas ke tangan Kim.

Karikatur Trump dan Kim

Padahal, rencara KTT itu telah dibentuk melalui kecakapan diplomasi yang canggih oleh kedua pemimpin – perundingan secara lunak telah dilakukan setelah sepanjang tahun lalu kedua pemimpin itu saling bullying. Setelah ejekan dan hinaan terhenti sekedar retorika, keduanya mulai bicara tentang isu-isu yang subtansif hingga ke rincian-rincian yang penting.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in juga memiliki andil besar. Dia benar-benar ingin mengambil kesempatan ini untuk kepentingan negaranya. Tak kalah penting lagi terus mengobarkan optimisme – sehingga muncul sejumlah pertanyaan apakah dia terlalu memberikan keuntungan kepada Kim Jong-un untuk mau berunding dengan Trump?

Sebelum Trump mengumumkan menunda pertemuan – tidak bisa diselenggarakan bulan depan – begitu bahasa yang disampaikan kepada wartawan, Korea Utara secara mendadak batalkan pertemuannya dengan Korea Selatan. Alasan yang digunakan adalah adanya latihan militer gabungan AS-Korea Selatan – meskipun sebelumnya dikatakan tidak ada persoalan – disebutnya sebagai “provokasi”.

Selanjutnya Pyongyang menuding Penasehat Keamanan Nasional AS John Bolton membuat “pernyataan sembrono” setelah dia menyarankan Korea Utara dapat mengikuti “model Libya” dalam program denuklirisasi.

Pernyataan Bolton itu mengingatkan Kim kepada pemimpin Libya Muammar Gaddafi yang setuju menyerahkan senjata nuklir pada tahun 2003 dan setelahnya Ghaddafi tewas dibunuh secara mengenaskan oleh pembrontak yang disokong negara-negara Barat.

Namun Trump membantah AS akan mengikuti “model Libya” jika kesepakatan dicapai dengan Korea Utara. Tentu saja Korea Utara tidak percaya begitu saja, karena “model Libya” itu yang mungkin sedang dirancang oleh AS. Dan Bolton keceplos membiacarakan apa yang diagendakan dalam rencana pihak keamanan AS dalam menghadapi Kim Jong-un. Maka Kim Jong-un kehilangan selera hadir dalam pertemuan.

“Model itu hanya akan terjadi jika kita tidak membuat kesepakatan, kemungkinan besar. Tetapi jika kita membuat kesepakatan, saya pikr Kim Jong-un akan sangat, sangat bahagia,” ujar Trump dalam bahasa hyperball yang juga bisa dimaknai sebagai ejekan.

Trump tampaknya berambisi besar mencatatkan Namanya dalam sejarah Presiden AS, karena sebelumnya belum pernah ada satu pun Presiden AS yang duduk satu meja dan berjabat tangan dengan pemimpin Korea Utara.

Setelah lebih dari satu tahun saling bully tiba-tiba Presiden Trump menerima tawaran berunding oleh Korea Utara sebagaimana disampaikan oleh Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. The New York Times melaporkan pada Minggu kemarin, Trump meminta bantuan dari para penasehatnya apakah pertemuan bisa dilanjutkan?

Kenyataannya Trump mengumumkan penundaan. Banyak pengamat percaya kedua pemimpin itu memiliki terlalu banyak yang dipertaruhkan apabila pertemuan batal dilaksanakan. Namun komitmen tentang “denuklirisasi” kemungkinan akan berbeda dengan Washington yang menginginkan pelucutan senjata nuklir secara “menyeluruh, dapat diverifikasi dan tidak dapat diubah lagi”.

Lokasi tempat uji coba nuklir yang akan dibongkar

Korea Utara kemungkinan akan membongkar tempat uji coba nuklirnya pekan ini sebagai wujud dari niat baik. Tapi pembongkaran – untuk diamati oleh wartawan asing – mungkin tertunda karena cuaca buruk. Toh begitu rombongan wartawan Barat, Rusia dan China telah diundang oleh Korea Utara ke lokasi uji coba nuklir Pyunggye-ri sebelum pembongkaran.

Mereka diterbangkan ke kota pelabuhan Korea Utara Wonsan. “Namun sayang, perjalanan tertunda oleh cuaca buruk,” begitu tulis Tom Cheshire dari Sky News, Inggris.

Situs di pegunungan timur laut, dianggap sebagai fasilitas nuklir utama Korea Utara dan satu-satunya lokasi pengujian nuklir aktif di dunia. Pengujian telah dilakukan dalam sitem terowongan yang digali di bawah gunung terdekat. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here