Wawancara Eksklusif Dokter Bagoes, Kunci Utama Kasus P2SEM (1)

0
1000
Dokter Bagoes Soetjipto saat dikunjungi kuasa hukumnya Ardi Dwijaya Kusuma, SH., di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo, Minggu (17/12/2017).

Nusantara.news, Sidoarjo – Terpidana mega korupsi dana hibah P2SEM (Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat) 2008, dr Bagoes Soetjipto Soelyoadikoesoemo kini sudah mendekam di  Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo. Namun apa yang dikesankan banyak orang bahwa kehidupan koruptor itu mewah selama di tahanan, ternyata tidak berlaku bagi Dokter Bagoes. Kehidupannya kini jauh dari kata mewah.

Sejak Dokter Bagoes memilih kabur ke Malaysia tahun 2010, dia sebenarnya merasa ketakutan dengan kasus yang menderanya. Menurutnya, tidak semua semua penikmat dana hibah P2SEM diproses. Memang diakui Dokter Bagoes, ada beberapa penerima dana hibah yang sudah menjalani tahanan. Tapi mereka bukan aktor sesungguhnya. Dalam penanganan kasus P2SEM, menurut dokter spesialis jantung ini, banyak muatan politisnya. Salah satunya Dokter Bagoes mengaku bila dia dijadikan ‘kambing hitam’.

Nah, alasan kepergian Dokter Bagoes ke Malaysia, selain menerima banyak ancaman dari rekan-rekan bisnisnya yang ‘lolos’ dari jeratan hukum, anaknya juga sempat menjadi korban penculikan.

Dokter Bagoes menduga, penculikan terhadap anaknya ada kaitan dengan kasus yang tengah dijalaninya. Dia mengaku sangat khawatir dengan keamanan keluarganya. Karena itu dia kemudian memilih untuk hengkang dari Indonesia.

“Sejak kasus P2SEM menguap, hidup saya tidak nyaman. Saya selalu merasa ketakutan. Sering mendapat teror dan ancaman,” terangnya terbata-bata kepada Nusantara.News sewaktu menjenguk rame-rame di LP Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo, Minggu (17/12/2017).

Selama di Malaysia, Dokter Bagoes menceritakan dia bekerja di klinik atas bantuan dari temannya. Namun saat pertama kali datang di negeri Jiran tersebut, tugasnya di klinik hanya mendata administrasi saja. Dia tidak langsung menangani pasien. “Saya langsung bekerja di klinik. Tapi cuma sebatas pendataan,” ujarnya.

Barulah setelah itu, dia mulai menangani pasien. Tidak hanya itu, Dokter Bagoes juga mulai masuk ke dunia pendidikan. Dia mengajar sebagai dosen. Dan setelah kehidupannya berangsur-angsur normal, dia mulai mengajak istri dan anak-anak menetap di Malaysia.

Meski berada di luar negeri dan jauh dari perkara yang dihadapi, namun Dokter Bagoes tetap teringat dengan tanah kelahirannya. Dia masih dihinggapi kegelisahan. Mengingat masih banyak tanggungan keluarga yang belum dia penuhi. Salah satunya merawat ibunya di panti jompo dan juga masalah kakaknya yang saki-sakitan. Praktis, Dokter Bagoes menjadi tulang punggung keluarga selama berada di Malaysia.

Setiap bulan Dokter Bagoes mengirim uang ke keluarganya. Uang itu didapat dari hasil keringat sendiri selama bekerja di sana. Dan sekarang, setelah dia mendekam di LP Kelas I Surabaya di Porong, dia mengaku bingung dengan persoalan keluarganya.

Jangankan membiayai ibu dan kakaknya, Dokter Bagoes mengaku tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup seperti membeli tempat tidur sendiri. Selama di tahanan, Dokter Bagoes selalu tidur di lantai. “Saya minta tolong ke teman-teman dan saudara untuk mengirimkan kasur buat tidur. Dan hari ini dikirim. Saya berterima kasih kepada teman-teman yang sudah menjenguk saya,” urainya.

Sebelum habis waktu besuk, Dokter Bagoes kembali mengingatkan pada Nusantara.News jika jam besuk atau kunjungan ke LP setiap hari Senin, Rabu dan Sabtu. Harapan dia, dengan adanya kunjungan dari teman-teman, sanak dan kerabat, bisa memotivasi dirinya untuk menjalani masa tahanan. “Hari dan jam berkunjung adalah Senin-Rabu-Sabtu pukul 08.00-11.00. Mohon dibantu agar teman-teman kardio dan FK angkatan 88 (Unair) diberitahu. Matur nuwun sanget,” harapnya.

Terpisah, kuasa hukum Dokter Bagoes, Ardi Dwijaya Kusuma, SH., mengatakan selama pelarian di Malaysia, Dokter Bagoes menggunakan jasa orang dalam kantor imigrasi Jakarta Utara. “Sebelum berangkat ke Malaysia, Dokter Bagoes memakai jasa orang dalam kantor imigrasi Jakarta Utara. Dia menggunakan paspor dengan foto dan nama asli. Tidak ada itu paspor palsu. Karena waktu itu dia belum dicekal,” ujar Ardi.

Begitu pula ketika Dokter Bagoes melakukan pembaharuan paspor, dia tinggal menelepon agen yang ada di Indonesia. Dan paspor atas nama Dokter Bagoes langsung diterbitkan secara legal. “Memang hal ini banyak mengundang pertanyaan, bagaimana bisa terpidana bisa kabur. Tentu yang membuat paspor itu patut dipertanyakan keterlibatannya. Yang jelas saat ini pihak dari imigrasi Jakarta Utara yang mengeluarkan paspor tengah diperiksa oleh Internal Dirjen Imigrasi,” imbuhnya.

Pemeriksaan terhadap pihak imigrasi Jakarta Utara (oknum), dikatakan Ardi, baru dua hari lalu. Mereka diperiksa sebagai saksi. “Dua hari lalu diperiksa soal penerbitan paspor. Ada indikasi keterlibatan oknum imigrasi Jakarta Utara,” katanya.

Harapan tim kuasa hukum Dokter Bagoes, pihaknya tidak mau kasus korupsi dana hibah P2SEM berhenti sampai di sini saja. Ardi mendesak agar Dokter Bagoes mau menjadi justice collaborator.

“Kami mau dia menjadi justice collaborator sehingga bisa mengurai kusutnya kasus P2SEM. Sebab, sampai sekarang masih banyak pihak-pihak penikmat dana P2SEM belum diproses secara hukum. Bahkan mereka bebas berkeliaran. Dengan kesediaan Dokter Bagoes bekerjasama dengan penegak hukum dalam mengungkap kasus korupsi berantai ini, besar kemungkinan akan terbongkar siapa saja aktor-aktor intelektual di balik kasus P2SEM,” pungkas Ardi.

Saat ini Nusantara.News menjadwalkan agenda untuk bertemu kembali dengan Dokter Bagoes, dan yang bersangkutan bersedia untuk menjelaskan panjang lebar kasus P2SEM yang menimpa dirinya. Bagaimana kisah perjalanan Dokter Bagoes, terpidana kasus korupsi dana hibah P2SEM, akan dibeber minggu depan. Simak saja kelanjutannya.[] Bersambung. . 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here