Wayang Potehi Asli Gudo, Jombang

0
302

Nusantara.news, Surabaya – Pada hari Rabu (1/1/2017) Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat di Surabaya dan Pusat Kebudayaan AS Jakarta menggelar satu kesenian khas Jombang, yakni Wayang Potehi. Acara yang diselenggarakan di Konsulat AS di Surabaya itu juga Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko.

Nyono menyatakan rasa bangga, karena Jombang menjadi motor penggerak kebudayaan Wayang Potehi. “Wayang Potehi ini sebelumnya sudah hampir punah. Dengan pementasan dalam rangka Imlek 2568 ini, Wayang Potehi bukan hanya mendapat suntikan semangat baru, tetapi juga akan go international, sesuai yang dikatakan Konsul Amerika di Surabaya,” kata Nyono.

Untuk sebagian masyarakat, Wayang Potehi mungkin kurang dikenal, meskipun di sejumlah daerah di Tanah Air seni budaya ini lumayan populer. Tapi, apa sebenarnya Wayang Potehi itu?

Wayang Potehi sendiri adalah seni budaya wayang asli Gudo Jombang. Dalam perkembangannya, wayang Potehi semakin diminati masyarakat tanah air. Fenomena ini tak lepas dari peran sosok Toni Harsono, pengusaha emas yang tinggal dikawan Gudo, Jombang yang tak henti-hentinya mempopulerkan wayang khas Tionghoa ke pelosok negeri.

Go internasional, wayang Potehi ini sudah pernah manggung di Jepang. Menurut Toni, “Sejarah paguyuban Hok Ho An dibentuk oleh almarhum kakek saya, Tok Su Kwie, setelah tiba di tanah Jawa. Paguyuban ini merangkul semua warga Tionghoa yang sama-sama baru datang ke tanah air. Perkumpulan ini kemudian surut dan tidak aktif lagi setelah kakek saya meninggal.”

“Nah, setelah reformasi, saya mencoba menghidupkan lagi Hok Ho An. Mudah-mudahan paguyuban ini bisa bertahan lama. Makanya saya merangkul teman-teman dalang dari Jombang, Kediri, Tulungagung, Tuban, Surabaya, Semarang, dan beberapa kota lain. Semuanya sepakat untuk bekerja sama menghidupkan seni wayang potehi,” ujarnya.

Sambutan masyarakat terhadap kehadiran Wayang Potehi cukup besar. Selama ini Toni dan rekan-rekannya sering mendapat tawaran mentas di berbaga kota.

Salah satu tempat yang rutin mengundang pertunjukan Wayang Potehi, menurut Toni, adalah Kelenteng Teluk Gong Jakarta.Semua boneka potehi hasil karya Toni dipertunjukkan.

“Biasanya, kalau ada teman atau kerabat yang kebetulan pergi ke Tiongkok saya sering titip dibelikan boneka potehi. Ini penting agar kita tidak terlalu ketinggalan zaman. Karena penasaran, akhirnya saya berkunjung langsung ke Tiongkok pada tanggal 21 Mei 2010. Syukurlah, saya bisa melihat langsung kelenteng-kelenteng tua dengan ukiran yang sangat rumit dan indah. Kalau disini saya punya tukang sebanyak tiga orang, yang aktif dua. Saya yang mendesain dan mereka yang mengerjakannnya,” imbuh pria tambun yang gemar motor tua CB ini.

Menurut Toni, Gudo di Jombang itu dekat dengan pusat Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Budaya peranakan Tionghoa di Gudo mampu bertahan sampai sekarang dan menunjukkan kemampuan berbaur dan berakulturasi dengan masyarakat setempat dengan menjunjung sikap toleransi yang kokoh. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here