Xi Jinping dan Ambisi “China Great Again”

0
187

Nusantara.news – America Great Again’ frasa yang sempat populer saat Pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2016, saat itu kandidat calon presiden dari Partai Republik yang sekarang terpilih sebagai presiden AS, Donald Trump, mengunakan frasa itu dalam setiap kampanyenya. Frasa yang terbukti ampuh membangkitkan nasionalisme rakyat AS dan akhirnya memilih Trump sebagai Presiden AS, yang saat itu mengklaim dirinya sebagai nasionalis-populis. Di tengah kritik dan pesimisme sebagian rakyat AS dan dunia, Trump hingga saat ini masih sedang membuktikan bahwa kebangkitan AS yang diinginkannya itu bukan sekadar jargon saat kampanye.

Hampir setahun setelah Trump terpilih di AS, aura kebangkitan tampak terasa di Beijing, Cina, di tengah perhelatan besar 5 tahunan Partai Komunis Cina (PKC), partai penguasa sekaligus satu-satunya partai di Cina. Pemimpin Cina, Xi Jinping, yang juga Sekretaris Jenderal PKC berpidato pada Kongres Nasional partai tersebut, Rabu 18 Oktober 2017. Dalam poin pidatonya, Xi menegaskan tentang kebangkitan Cina masa depan. Xi menargetkan, pada tahun 2035 Cina harus menjadi pemimpin global di bidang politik, ekonomi, hingga militer.

Dalam istilah Nick Bisley, Direktur Eksekutif La Trobe Asia dan Guru Besar Hubungan Internasional di La Trobe University, Australia, sebagaimana judul artikelnya di The Guardian, apa yang diinginkan Xi dalam pidato monumentalnya itu merupakan keinginan untuk “make China Great Again”, mewujudkan kebangkitan China.

“Tidak diragukan lagi, Xi Jinping ingin membuat Cina kembali hebat (China Great Again)” demikian bunyi judul artikel itu.

Menurut Bisley, pidato Xi Jinping dalam Kongres PKC adalah campuran antara slogan partai, jargon Marxis, dan agenda-agenda masa depan bangsa Cina.

Di ujung pidatonya yang panjang itu, (sekitar 3,5 jam) Xi Jinping mengatakan tentang bagaimana, “mengamankan kemenangan yang menentukan dalam membangun masyarakat yang cukup makmur dalam segala hal, dan berjuang untuk kesuksesan besar ‘sosialisme dengan karakteristik Cina’ untuk era baru.”

Xi memproyeksikan bahwa Cina akan menjadi “negara yang cukup makmur” pada tahun 2020. Dilanjutkan dengan target pencapaian besar yang dinamakannya sebagai “tujuan seratus tahun kedua”, di mana Cina akan menjadi negara ‘sosialis modern’ yang makmur pada tahun 2049.

Xi Jinping amat meyakini, Cina bakal menjadi negara terdepan di dunia dalam hal kekuatan nasional dan pengaruh internasional.

Untuk tujuan tersebut, dalam Kongres kemarin Xi Jinping membangun sebuah istilah baru yang bisa jadi terkait dengan filsafat politiknya yang sudah digembar-gemborkan sebagai “Xi Jinping Theory”, menurut informasi beredar bakal dimasukkan sebagai bagian dari konstitusi partai. Xi mengatakan, Cina sudah membentuk sebuah “sosialisme dengan karakter Cina untuk era baru”. Untuk memuluskan slogan tersebut, gagasan utamanya adalah PKC harus memimpin setiap aspek kehidupan di Cina.

Xi menyatakan, pembaruan (rejuvenation) nasional Cina hanya akan menjadi fantasi belaka tanpa kepemimpinan PKC. Sebab itu menurutnya, PKC harus memimpin di semua wilayah, dan kewenangan pimpinan pusat partai harus dihormati. Kader partai harus tetap sejalan dengan kepemimpinan partai, sementara partai harus memperketat kepemimpinannya pada pekerjaan ideologis.

“Partai tegas menentang semua upaya yang akan melemahkan, mendistorsi atau menolak pimpinan partai dan pelaksanaan sosialisme,” kata Xi Jinping yang juga menolak demokrasi ala Barat diterapkan di Cina.

Xi Jinping dan era baru kebangkitan Cina

Dilansir New York Times, Rabu (18/10), dua minggu setelah berkuasa pada November 2012, Xi Jinping mengajak para pembantu utamanya ke Museum Nasional Cina. Di sana mereka diajak ke sebuah aula besar yang dipenuhi dengan peninggalan masa lalu: tentara terakota dari Xi`an, patung-patung mengkilap dari dinasti Tang dan perunggu langka dari dinasti Shang yang jauh di masa lalu.

Xi Jinping memilih museum dengan narasi “The Road of Rejuvenation” atau “Jalan menuju Pembaruan” yang terletak di depan lapangan Tiananmen itu. Museum yang menceritakan bagaimana Cina pernah diposisikan rendah oleh negara-negara asing (Barat) pada abad ke-19 dan ke-20, tapi sekarang berada di jalan menuju kejayaan.

Di depan sebuah lukisan yang berkisah tentang penaklukan Cina, Xi Jinping mengatakan bahwa mimpinya adalah menyelesaikan tugas suci tersebut. Ini segera menjadi “China Dream” dan semenjak itu pula dia membentuk pemerintahannya. Sekarang, Xi Jinping akan memasuki masa pemerintahan periode kedua, dan pada momentum kongres PKC kemarin, pidato Xi Jinping tegas bahwa Cina akan meretas mimpi kebangkitannnya.

Di era Xi Jinping, Cina memang mengalami banyak perubahan dalam hal kebijakan luar negeri. Sebelumnya, selama beberapa dekade, AS lah yang selalu mendesak Cina untuk lebih terlibat dalam masalah global, seperti meminta Cina untuk membantu memecahkan krisis internasional. Setelah bertahun-tahun memainkan peran yang pasif dalam urusan global, Cina sekarang mengambil pendekatan berbeda, bahkan terlihat tampak sangat agresif.

Beijing misalnya, secara agresif menerapkan klaim historis atas perairan dan pulau-pulau internasional. Membangun terumbu karang di pulau-pulau tersebut dan membuat pernyataan bahwa zona ekonomi di sekitar itu adalah perairan Cina, klaim yang bertentangan dengan keputusan hukum internasional.

Di bawah Xi Jinping, Cina juga mulai menarik negara-negara di kawasan Asia Pasifik ke orbitnya, melalui  rencana mega-proyek infrastruktur disebut Xi Jinping sebagai inisiatif One Belt One Road (OBOR), dalam prosesnya proyek tersebut melibatkan negara seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, Malaysia, termasuk Indonesia dan negara-negara lainnya di kawasan.

Di tengah sikap AS pasca dipimpin Donald Trump yang dianggap ambigu dan membingungkan oleh dunia global, Cina justru mengambil kesempatan. Di KTT G-20 di Jerman, Cina sempat menjadi tumpuan bagi negara-negara Eropa untuk mengambil alih kepemimpinan global setelah AS, dibawah Trump, bersikap memproteksi diri dari dunia global. AS mundur dari Kesepakatan Iklim Paris sementara Cina di bawah Xi Jinping dan negara-negara Eropa lainnya, justru dengan tegas mendukung. Dalam hal perdagangan, saat AS memproteksi diri, Cina malah mendukung Free Trade.

Dalam pidato di Kongres PKC, Xi Jinping yang kini berusia 64 tahun itu menunjukkan kepercayaan dirinya sebagai pemimpin negara yang tengah bangkit, menggeliat, menuju pemimpin global. Xi juga secara politik menunjukkan kekuasaan “tanpa batas” dengan tidak memunculkan siapa nama penerusnya, sebagaimana tradisi pemimpin-pemimpin Cina sebelumnya di awal periode kedua kepemimpinan. Sejumlah media Barat menyebut, Xi sepertinya tengah berupaya melanggengkan kekuasaan hingga periode ketiga atau bahkan keempat.

Kepercaan diri Xi Jinping dinilai wajar karena ayah presiden Cina itu adalah salah satu pendiri Republik Rakyat Cina, dan Xi tumbuh di kalangan bangsawan merah Cina. Inilah yang memberinya modal sosial yang berbeda dari para pendahulunya, Hu Jintao dan Jiang Zemin, di mana keduanya berasal dari latar belakang berbeda. Xi selain memiliki jaringan formal di PKC juga memiliki jaringan informal sebagai bangsawan.

Cina saat ini menempati peringkat pertama di dunia sebagai negara terbesar secara ekonomi disusul AS, meskipun dari segi militer AS tetap masih yang terkuat di dunia. Ambisi Xi Jinping, Cina harus menjadi yang terkuat dalam segala hal, termasuk militer. Mampukah Xi Jinping mewujudkan mimpi besar negaranya?

Tentu, bagi negara dengan jumlah penduduk paling besar di dunia (1,35 miliar) dan dengan masalah ekonomi yang kompleks, bukanlah perkara mudah.

Tapi pertanyaannya, jika nanti Cina kelak berhasil menjadi negara sejahtera, bebas dari kemiskinan rakyatnya, mampu memimpin dunia, sebagaimana mimpi (China Great Again) Xi Jinping, akankah Cina kemudian menjadi model bagi negara-negara lain? Negara otokratis, anti-demokrasi, dipimpin partai Komunis, berpaham sosialis, namun secara ekonomi menerima kapitalisme.

Sebelum jauh ke sana, tentu rencana-rencana Presiden Xi Jinping ke depan patut menjadi perhatian secara geopolitik dan geostrategis bagi negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here