Xi Jinping dan Kedaulatan Seorang Pemimpin

1
367
Bekerja keras, memiliki narasi kepemimpinan dan cerdas menjadi bekal utama Xi Jinping memimpin China

Nusantara.news, Jakarta – Sepanjang sejarah Republik Rakyat China baru ada tiga pemimpin yang nama dan pemikiran ideologinya masuk dalam konstitusi. Ketiga orang itu masing-masing Mao Zedong, Deng Xiaoping dan Xi Jinping. Di antara tiga nama itu hanya Mao Zedong dan Xi Jinping yang nama dan pemikirannya tentang ideologi masuk dalam konstitusi ketika orangnya masih hidup. Pemikiran Deng baru dijadikan ideologi resmi setelah orangnya sudah mati.

Gagasan yang akhirnya disetujui oleh Kongres Rakyat Nasional China – parlemen China – pada Sabtu pekan lalu itu sebelumnya diputuskan lewat Kongres Partai Komunis China (CPP/China Communist Party) yang berlangsung antara 18 – 24 Oktober 2017. Gagasan Xi yang dituangkan menjadi ideologi resmi negara itu berjudul “Pemikiran Xi Jinping tentang Sosialisme dengan Karakteristik Masyarakat China di Era Baru”.

Tegas dan Sederhana

Presiden RRC Xi Jinping

Sejak diangkat resmi menjadi Presiden China pada 14 Maret 2013 oleh parlemen China, Xi Jinping tampil sebagai sosok pemimpin yang sederhana dan bertindak tegas. Karakter ini yang membedakannya dengan Presiden China paska Ketua CPP dipegang oleh Deng Xiaoping. Kalau sebelumnya Presiden China terkesan bertenggang rasa terhadap faksi-faksi yang “terwakili” oleh 9 anggota polit biro, Xi Jinping justru memberangus keberadaan faksi-faksi itu.

Inilah yang membuat Xi Jinping berdaulat atas dirinya. Padahal kekuasaan polit biro partai bukan sembarangan. Di antara anggota polit biro ada yang memiliki hubungan kuat dengan angkatan bersenjata. Tapi Xi tidak peduli. Dengan terus mengkonsilidasikan kekuasaan yang terpusat pada dirinya Xi membangun kekuatan kepemimpinan yang kini dianggap setara dengan Mao Zedong yang mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat China

Saat menjabat Sekjen CCP pada Oktober 2012 Xi sudah mengurangi jumlah anggota politbiro dari 9 orang menjadi 7 orang. Tidak segan pula dia memecat anggota partai yang tidak melaksanakan perintahnya. Xi juga memerangi nepotisme dan jual beli jabatan – baik selama 4 tahun menjabat Sekjen CCP maupun 5 tahun menjadi Presiden RRC.

Satu hal lagi, dalam setiap kunjungannya ke berbagai tempat, Xi dan rombongannya selalu menggunakan mobil sederhana. Tidak seperti pada era Hu Jintao yang selalu menggunakan mobil mewah beserta rombongan yang menyertainya. Karena itu pula Xi cepat mendapat simpati rakyat – meskipun tidak sedikit pula yang diam-diam memusuhinya.

Meskipun lahir dari lingkungan keluarga pejabat, sejak usia muda Xi memang terbiasa hidup sederhana. Maka selama 5 tahun menjadi Presiden China, pesta-pesta mewah yang biasa dilakukan selama 10 tahun kepemimpinan Hu Jintao mendadak lenyap. Karena Xi selama menjabat selalu menyerukan anti pemborosan uang negara.

Tentang tindakan melawan korupsi tak perlu diragukan lagi. Selama 5 tahun menjabat presiden – tingkat korupsi yang mulai kronis bersamaan tingkat pertumbuhan yang luar biasa di Chna – Xi telah menghukum 1,34 pejabat di semua tingkatan di China. Saat berita ditulis dia juga sedang memburu sekitar 200 pejabat tingkat menteri di negaranya.

Selama memimpin China, tingkat pertumbuhan memang tidak luar biasa seperti di era pendahulunya. Tapi paling tidak Xi berhasil menyelamatkan krisis di China yang beban utangnya sudah mencapai 272% (Bloomberg 2018) dari gross domestic product (GDP) – dan penyumbang terbesar adalah utang perusahaan yang mencapai sekitar 170% dari GDP dan selebihnya dari utang pemerintah dan rumah tangga.

Kini Xi berjuang habis-habisan menekan utang dengan membabat praktek shadow banking yang dinilainya akan menjerumuskan China dalam perangkap utang. Bayangkan saja, dalam 9 tahun sejak Desember 2008 hingga Januari 2018 utang China sudah melonjak dari 32 triliun Yuan menjadi 128,6 triliun Yuan.

Kepemimpinan Xi tidak perlu diragukan lagi. Dia begitu berdaulat atas kekuasan yang dimilikinya sehingga mampu bersikap tegas – termasuk dalam memberangus korupsi, kolusi, nepotisme dan praktek jual beli jabatan yang dilakukan baiak oleh pejabat pemerintahan maupun kader-kader partai. Ketegasan ini pula yang tidak dimiliki selama 10 tahun kepemimpinan Hu Jintao – pendahulunya.

Ditempa di Gua

Xi Jinping lahir di Beijing, 15 Juni 1953 sebagai putera kedua dari pasangan Qi Xin dan Xi Zhongxun. Ayahnya adalah pemimpin gerilya CCP di Shaanxi yang pernah menjabat Wakil Perdana Menteri. Di CCP ayahnya menjabat Ketua Departemen Propaganda yang kemudian diangkat menjadi Wakil Kongres Rakyat Nasional.

Di gua ini Xi Jinping di usia 15 tahun menempa diri menjadi pemimpin

Dengan kata lain, Xi lahir dari lingkungan keluarga pejabat. Tapi sayang, saat Xi berumur 10 tahun ayahnya ditangkap atas perintah Ketua Mao. Setelah dijebloskan ke penjara ayahnya dan menjalani asimilasi dengan bekerja secara paksa di sebuah pabrik di Louyang, Henan.

Saat berkecamuknya revolusi kebudayaan yang menghancurkan apapun yang berbau feodal, tahun 1968 Mao mengeluarkan dekrit memerintahkan jutaan remaja meninggalkan kota dan hidup di pedesaan supaya merasakan sulitnya menjadi petani. Xi yang berusia 15 tahun terpaksa meninggalkan pendidikan formal di Beijing dan pindah ke desa Liang Jiahe di Provinsi Shaanxi.

Ketika itu belum ada listrik, kendaraan bermotor atau peralatan mesin. Di sana XI bertugas mengangkut pupuk, membangun waduk, saluran irigasi dan membangun jalan. Makanan sehari-hari hanya bubur. Toh begitu, Xi yang tinggal di Goa bersama tiga orang temannya, sangat gemar membaca dan menjauhi kehidupan normal anak remaja seperti misal memacari kembang desa.

Tulisan-tulisan yang sering dibaca Xi adalah buku-buku karangan Ketua Mao tentang ideologi. Dia juga sering membaca koran-koran bekas dari penduduk desa. Sejak usia muda dia sudah menggembleng diri menjadi seorang pemimpin. Karena auahnya juga seorang pemimpin yang amat disegani di Provinsi Shaanxi. Dari kota yang bersejarah dalam era perjuangan ayahnya itu Xi seolah ingin mencapai apa yang belum dicapainya ayahnya.

Sejak usia 18 tahun XI sudah ingin begabung menjadi anggota Liga Pemuda Komunis. Tapi karena ayahnya dipenjara oleh Mao Zedong selama tiga tahun keanggotaannya secara penuh tidak segera diakui. Baru saat usianya 21 tahun Xi secara resmi bergabung menjadi anggota CCP. Ketika itu ayah Xi sudah direhabilitasi oleh Ketua Mao dan sudah kembali menjabat di tingkat Provinsi.     

Selain menjadi anggota CCP, Xi juga tidak mengabaikan pendidikannya. Sejak 1975 – 1979 XI belajar teknik kimia di Universitas Tsinghua. Sejak 1998 hingga 2002 Xi serus mempelajari teori Marxis saat mengikuti program paska sarjana di Fakultas Humaniora dan Ilmu Sosial di Universitas yang sama.

Sedangkan di partai sendiri, Xi menjabat Sekretaris di Geng Biao pada 1979-1982. Jabatan Wakil Perdana Menteri dan Sekretaris Jenderal Komisi Militer Sentral juga pernah diraihnya sebelum terilih menjadi Wakil Presiden mendampingi Hu Jintao pada 15 Maret 2008. Menjelang terpilih menjadi Presiden pada periode pertamanya,  XI terpilih menjadi Sekjen CCP pada 15 November 2015 dan tak lama kemudian, tepatnya 14 Maret 2013 dipilih menjadi Presiden RRC.

Begitulah jejak perjalanan XI yang sejak menempa kepemimpinannya d sejumlah Provinsi di China selalu menghindar pemberitaan media massa. Dia tidak dilahirkan oleh politik pencitraan, melainkan melalui kerja keras, hidup sederhana dan bersikap tegas terhadap segala penyimpangan. Seperti halnya KGPAA Mangkunegara I, ayahnya yang pejabat tinggi di China menjadi korban politik penguasa, sehingga XI Jinping ditempa menjadi pemimpin yang mumpuni dan berdaulat atas dirinya.

Mungkin penghapusan masa jabatan presiden yang memungkinkannya menjabat seumur hidup adalah sesuatu yang berlebihan. Namun pemimpin berkarakter seperti Xi patut dicari di antara calon-calon Presiden di 2019 nanti – antara lain menempa diri sejak usia muda, memiliki narasi ideologi dan ayahnya pernah menjadi korban politik penguasa. Siapakah di antara calon Presiden yang ada memenuhi kriteria itu? []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here