Yadnya Kasada, Bakti Leluhur dan Pengorbanan

0
135
Gunung Bromo, juga dikenal sebagai Gunung Tengger Purba

Nusantara.news, Surabaya – Diperingati sebagai Yadnya Kasada, tepatnya di hari ke 14 Penanggalan Jawa. Adalah peristiwa sakral bagi masyarakat penganut Hindu. Di hari suci itu dilakukan upacara persembahan sesajen ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur, termasuk oleh masyarakat Suku Tengger, di Bromo, Jawa Timur.

Dari sejumlah referensi, Tengger adalah suku yang tinggal di sekitar Bromo yang dikenal sebagai gunung purba tergolong gunung vulkano. Memiliki ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan kawahnya yang eksotik berdiameter mencapai 4 kilometer menjadi daya tarik wisatawan. Bromo wilayahnya beririsan masuk Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang.

Legenda Tengger bermula dari pelarian para leluhur dari Kerajaan Majapahit. Kemudian mengasingkan diri dan bermukim di wilayah tersebut, mereka disebut sub-etnik Jawa atau Wong Tengger. Mayoritas memeluk agama Hindu, namun berbeda dengan Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di Tengger adalah Hindu Mahayana. Sementara agama lainnya juga ada yakni Islam, Protestan dan Katolik.

Legenda Roro Anteng-Joko Seger (Bobo.id)

Legenda Roro Anteng dan Joko Seger

Gunung Bromo atau Brahma oleh masyarakat Tengger dipercaya sebagai gunung suci, setiap tahun diperingati dengan upacara Kasada di pura terletak di kaki gunung. Dilanjutkan ke puncak dan melemparkan sesaji sebagai persembahan kepada leluhur. Itu dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat kekayaan alam yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.

“Prosesinya tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 Bulan Kasodo atau ke sepuluh Penanggalan Jawa,” tutur Yatno salah seorang tokoh masyarakat Tengger.

Selanjutnya, ongkek atau wadah berisi sesaji terdiri berbagai macam hasil bumi juga ternak dilempar ke kawah sebagai simbol pengorbanan yang pernah dilakukan nenek moyang mereka, di jamannya.

Dilanjutkan pengukuhan sesepuh atau dukun masyarakat Tengger dan pementasan tarian di panggung terbuka. Juga pemberkatan umat di lautan pasir kawasan Bromo. Itu mengisahkan legenda cinta Rara Anteng dan Jaka Seger, yang penggalan nama keduanya kemudian menjadi sebutan Tengger. Teng diambil dari nama Roro Anteng dan Ger dari nama Joko Seger. Mereka dipercaya sebagai “Penguasa Tengger yang Budiman”.

Kisahnya, setelah sekian lama pasangan tersebut hidup bersama tetapi momongan yang diharapkan tak kunjung dimiliki. Mereka kemudian melakukan semedi atau bertapa, berharap agar dikaruniai anak kepada Sang Hyang Widi.

Hingga suatu malam terdengar bisikan gaib, bahwa semedi akan berhasil dengan syarat jika telah mendapatkan anak, maka anak bungsu mereka harus menjadi korban sesembahan di kawah Gunung Bromo. Pasangan Roro Anteng dan Joko Seger kala itu menyanggupi.

Mereka pun mendapat momongan yang diharapkan, dikaruniai 25 orang putra-putri. Namun, karena rasa cinta dan kasih sayang kepada anak-anaknya, mereka tidak tega mengorbankan salah satu anggota keluarga. Mereka ingkar janji seperti yang pernah diucapkan.

Dewa murka dan marah, mengancam akan menimpakan petaka. Sesaat kemudian terjadi prahara, di kawasan Gunung Bromo menjadi gelap gulita. Dari perut gunung memuntahkan abu dan menyemburkan api. Seiring dengan itu, Kesuma anak bungsunya lenyap terjilat api, dan masuk kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kesuma terdengar suara gaib.

“Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hidup lah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo”.

Masyarakat Suku Tengger mempercayai mereka adalah keturunan Roro Anteng dan Joko Seger. Nenek moyang mereka berasal dari Kerajaan Majapahit. Saat Majapahit mengalami kemunduran, pada tahun 1364 Gajah Mada wafat. Namun, Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk berhasil mempertahankan kejayaannya sampai ia wafat tahun 1389.

Majapahit kemudian diperintah oleh Wikramawardana, menantu Hayam Wuruk. Sejak saat itulah Majapahit mengalami kemunduran. Peristiwa kemunduran Majapahit tersebut bersamaan dengan penyebaran agama Islam di Jawa.

Kedatangan Islam di Pulau Jawa pada 1426 M, orang-orang Hindu terdesak dari daerah pantai hingga akhirnya mereka menetap di daerah yang sulit dijangkau oleh pendatang, yaitu di antaranya daerah Tengger. Di sana mereka membentuk kelompok penduduk tersendiri hingga kini dikenal sebagai Wong Tengger.

Agama yang dianut oleh Suku Tengger adalah hasil perpaduan Hindu Waisya dengan Hindu Parsi. Dikisahkan, abad ke-16 para pemuja Brahma di Tengger kedatangan pelarian dari orang Hindu Parsi. Parsi artinya, Persia, ketika itu orang-orang Hindu Parsi datang, penduduk Tengger yang sebelumnya beragama Brahma beralih ke agama Hindu Parsi.

Meskipun telah menganut agama Hindu Parsi orang Tengger masih melakukan ajaran Budha. Bahkan kebiasaan tersebut diikuti juga oleh Hindu Parsi. Dan, ada yang menyebut mereka keturunan orang Tengger pada masa itu adalah Parsi Budha. Selain memadukan antara Hindu Parsi dan Budha orang Tengger juga ada yang masih menjalankan animisme. Itu dapat dilihat pada upacara selamatan yang dilakukannya, seperti upacara selamatan desa, selamatan bumi, dan lainnya. Dalam perkembangannya, masyarakat Suku Tengger tidak sedikit yang memeluk agama Hindu dan sebagian lain memeluk Islam, Kristen, dan Budha.

Bakti Leluhur dan Pengorbanan

Arkeolog yang juga Dosen Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menyebut Legenda Joko Seger – Roro Anteng, mengkisahkan putra terakhir (ke-25) bernama ‘Dewata Kusuma’ tewas ditelan lava pijar Bromo. Diyakini, gunung meletus karena menagih janji atau nadzar kepada kedua orang tua tersebut yang pernah diucapkan sebagai permohonan kepada Dewata. Karena ingkar janji, maka kekuatan alamiah Bromo lewat erupsi dahsyatnya ‘memaksa’ mereka mengorbankan apa yang telah dijanjikan.

“Ini menegaskan tentang pentingnya komitmen pemenuhan janji (ngluwari nadzar) yang telah diucapkan. Hikmah dari tragedi itu bahwa masyarakat Tengger harus setia kepada janji yang merupakan prinsip hidup,” kata Dwi Cahyono dalam tulisannya.

Untuk mencegah terulangnya tragedi, setiap tahun di bulan Kasada, masyarakat Tengger di empat penjuru daerah, di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang menggelar ritual ‘Yajna Kasada’. Melarung hasil bumi dan ternak yang telah mereka janjikan setahun sebelumnya sebagai bukti pemenuhan dikabulnya janji yang mereka sampaikan, lewat Dukun Tengger.

Tersirat, dalam ritual Kasada bahwa pengorbanan manusia, yang dinilai tak manusiawi (ahumanis) bisa diganti dengan ‘pengorbanan inatura’, yakni dengan melarung hasil bumi atau serta binatang ternak ke dalam kaldera kawah Bromo. Tradisi ini sebagai bentuk ekspresi dari ritual Arkhais Masa Hindu-Buddha, yaitu pemberian atau pelarungan sesaji ke Mahavedi. Dan kaldera Bromo diibaratkan sebagai Mahavedi alamiah yang besar, tempat dilarungkan sesaji, setiap tahun di bulan Kasada.

Akar Tradisi Peringatan Kasada

Dari sejumlah referensi legenda itu dijadikan penjelas, Yajna Kasada bermula di akhir kejayaan Majapahit. Joko Seger dikisahkan, sebagai warga Majapahit yang eksodus ke dataran tinggi Tengger sekitar abad XV-XVI Masehi. Kemudian, sejak kapan ritual meredam murka Bromo dimulai?

Menelisik data epigrafis, khususnya prasasti-prasasti Mpu Sindok atau Sri Isana di abad X Masehi dan Hyang Wkasingsuka atau Hayam Wuruk, pada paruh kedua abad XIV Masehi menginformasikan upaya religius magis meredam murka Gunung Bromo sejatinya telah berlangsung jauh sebelum adanya legenda Joko Seger – Roro Anteng. Dengan kata lain, legenda itu merupakan penegasan lewat kisah atau bermula beberapa abad sebelumnya pada masyarakat pemuja dewata atau Hulun Hyang, yakni ‘warga Tenggermula’, yang bermukim di daerah Malang.

Empat diantara delapan hingga sembilan prasasti yang dikeluarkan atas perintah Mpu Sindok di daerah Malang, yaitu Prasasti Linggasuntan (929 M); Prasasti Gulung-gulung (929 M); Prasasti Jru-jru (930 M), dan Prasasti Muncang (944 M) tentang bangunan suci di Walandit maupun di Himad untuk memuja Sang Hyang Swayambhuva, yakni dewata yang menguasai kekuatan dahsyat vulkanik Gunung Bromo.

Pemujaan terhadap Bhattara di Walandit juga digambarkan di Prasasti Muncang, mengisahkan pendirian Prasadha Kabaktyan bernama Siddhayoga, yakni tempat para pendeta melakukan persembahan kepada Bhattara. Saat itu, setiap hari dipersembahkan bunga kepada Bhattara i Sang Hyang Swayambhuwa di Walandit.

Prasasti Gulung-gulung, juga mengisahkan soal penetapan sawah di Wanua Gulung-gulung dan sebidang hutan di Bantaran menjadi sima. Tujuannnya, sebagai wakaf atu Dharmmaksetra bagi bangunan suci Rakryan Hujung, yaitu Mahaprasadha di Himad. Sawah itu diperuntukkan bagi persembahan terhadap Sang Hyang Kahyangan di Pangawan.

Kendati dalam empat prasasti di atas diartikan ada dua Bhattara, yaitu Bhattara di Walandit dan Bhattara di Himad, termasuk di dalamnya Bhattara di Pangawan. Pertanyaannya, apakah dewata yang dipuja sama? Jika sama, berarti dewata tersebut adalah Sang Hyang Swayambhuwa. Artinya, sejak masa pemerintahan Mpu Sindok (Abad X M) hingga jaman keemasan Majapahit (Abad XIV M) terdapat Bhattara yang dalam lintas masa dipuja di lebih dari satu tempat, yakni Sang Hyang Swayambhuwa.

Siapa yang dimaksud dengan Sang Hyang Swayambhuwa? Menurut J.G. de Casparis (1940:51) adalah dewa yang menguasai Gunung Bromo. Dalam konteks ini, Brahma tidak menunjuk kepada salah satu dewa dalam Trimurti, namun lebih mengarah kepada Dewa Kemarahan (Kemurkaan) atau Dewa Api.

Kata Sanskreta ‘Brahma’ atau ‘Brama’ secara harafiah berarti kemarahan atau murka (ugra). Sang Hyang Brahma menunjuk pada api suci dalam ritus manusuk sima. Kabraman (ka-brama-an)’ berarti: marah (Pigeaud, 1995:131). Dewa Api tersebut adalah dewata yang menguasai gunung berapi, yang pada saat tertentu murka dalam bentuk erupsi menyemburkan lava pijar.

Upacara Kasodo Suku Tengger (Bobo.id)

Ritual Magis Meredam Murka Alam

Yajna Kasada yang hingga kini menjadi tradisi, di antaranya oleh masyarakat Tengger memiliki akar sejarah panjang. Embrionya telah ada sejak abad ke-10 M., di Pemeritahan Mpu Sindok. Pemula pelakunya adalah para hulun hyang yang tinggal di desa-desa keramat, di lereng selatan dan timur kawah Bromo pada sub-area timur dan utara Kabupaten Malang. Mereka, saat itu melaksanakan upacara religius magis berupa pengorbanan bunga setiap hari dan pemujaan tahunan berupa seekor kambing dan 1 pada beras pada saat matahari melintasi garis katulistiwa, sekitar Maret dan September.

Pemujaan dilakukan di beberapa bangunan suci yaitu di Desa Walandit serta di Pangawan dan Wangkedi. Mereka memuja Bhattara Sang Hyang Swayambhuwa, yakni dewata yang menguasai atau menaungi Gunung Bromo, yakni Gunung Berapi yang secara periodik murka mengeluarkan eksplosi atau erupsi.

Tradisi ini berlanjut hingga memasuki masa keemasan Majapahit, yakni pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk atau Hyang Wkasingsuka. Bahkan hingga masa akhir kejayaan Majapahit. Waktu pelaksanaannya di Bulan Asada (kini Kasada). Hanya saja, tidak diselenggarakan bertepatan dengan tibanya bulan purnama (Suklapaksa) pada akhir bulan terang sebagaimana Yajna Kasada (Kesodo) di masa sekarang. Namun justru saat memasuki bulan petang (Kresnapakasa). Upacara Yadnya Kasada Bromo ini, mereka jadikan Hindu lama sebagai pedoman hidup mereka. Keberadaan suku ini menerapkan hidup yang jujur dan tidak iri hati.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here