Yang Ditakuti Yahudi Cuma Pancasila

0
752
Presiden Soekarno (tengah) menjamu perwakilan Pengurus Besar Provinsial Tarekat Kemasonan Indonesia, 3 Maret 1950. Namun pada Februari 1961, Presiden Soekarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemason di Indonesia.

Nusantara.news, Surabaya – Bangunan mirip tangga Freemason yang diklaim DPRD Kabupaten Madiun sebagai tugu Demokrasi memang sudah ditutupi terpal. Namun polemiknya belum reda. Sejumlah pihak menilai perancang tugu atau siapapun yang terlibat dalam pembangunan tersebut tidak memiliki jiwa nasionalisme.

Simbol Freemason tersebut berdiri di depan kantor DPRD Kabupaten Madiun. Bentuk bangunannya menyerupai prisma. Bila dilihat dari depan, di sebelah kanan terdapat 5 anak tangga besar. Sedang di sebelah kiri terdapat 45 buah anak tangga kecil. Di tengahnya dibuat berlobang. Lalu ada tiga anak tangga kecil di bawahnya.

Yang disayangkan, banyak simbol di Indonesia seperti candi-candi yang bisa dipakai. Tapi DPRD Kabupaten Madiun malah menggunakan simbol Freemason yang pernah dilarang oleh Proklamator RI Bung Karno.

Antara kecolongan dan ada unsur kesengajaan, dua-duanya tidak jauh beda. Diketahui tugu Demokrasi yang menelan anggaran Rp 1.069.700.000 dan bersumber dari dana APBD 2017 itu, dibangun oleh seseorang yang sangat berpaham Freemason.

Baca juga: Patung Cina di Tuban, Simbol Yahudi di Madiun

Bagus Legowo, penggagas Rumah Pancasila mengatakan, orang yang membuat designnya otomatis sangat paham dengan doktrin-doktrin Freemason. Minimal dia berpaham Freemason.

“Ya agamanya, pahamnya, pasti menyempret ke sana. Apalagi ini soal struktur bangunan, dan itu adalah ekspresi seni. Pastilah jauh hari sudah dipikirkan dengan matang. Pasti dia juga punya referensi soal Freemason,” kata Bagus kepada Nusantara.News, Sabtu (9/12/2017).

Persamaan bangunan prasasti DPRD Kabupaten Madiun dengan simbol Freemason.

Menurut Bagus, organisasi Freemason dibuat oleh sembilan orang Yahudi di Palestina pada tahun 37 M. Organisasi ini dimaksudkan sebagai usaha untuk melawan pemeluk Masehi (Kristen, Islam, Budha, Hindu dan semua agama kecuali Jews), dengan cara pembunuhan terhadap orang per-orang.

Di Indonesia, Freemason sendiri sudah ada sejak tahun 1736. Saat itu seorang Belanda yang bernama Jacobus Cornelis Mattheus datang ke Indonesia bersama VOC untuk berdagang di Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia.

Setelah beberapa lama tinggal di Batavia Jacobus Cornelis mendirikan pusat aktivitas para anggota Freemanson (logi). Waktu itu organisasi hanya menerima anggota yang berasal dari warga Belanda yang beranggotakan enam orang. Di mana mereka adalah dari kalangan petinggi militer dan sebagian lagi para pengusaha Yahudi.

Di tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels pun akhirnya berhasil membekukan organisasi tersebut. Namun di masa kepemimpinan Daendels berakhir, organisasi ini kembali muncul kembali dengan membentuk anggota baru dari pedagang Tiongkok dan warga pribumi terutama para ningrat Nusantara. Perkembangan organisasi ini pun sangat pesat, beberapa tokoh-tokoh Nasional pun dikabarkan pernah terlibat sebagai anggota Freemanson yang di antaranya adalah Raden Adipati Tirto Koesoemo, R.M. Adipati Ario Poerbo Hadiningrat dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Di Tahun 1767, pada umumnya dianggap sebagai awal kehadiran Tarekat Mason Bebas yang terorganisir di Jawa. Selain melakukan pertemuan di logi-logi, mereka juga kerap melakukan pertemuan rahasia di kawasan Molenvliet yang kini menjadi Jalan. Gajah Mada dan Hayam Wuruk untuk membahas mengenai pendirian loji tersebut.

Kata Bagus, loji-loji Freemason mulai banyak berkembang di Indonesia mulai tahun 1945-1950. Saat itu era Soekarno. Beberapa orang pribumi juga ikut bergabung dalam kelompok ini. Mungkin pada masa itu, keikutsertaan mereka pada kelompok ini hanya untuk mencari sesuap nasi, atau mencari aman atau bisa pula hanya karena masalah politik.

Berdirinya loji-loji Freemason semakin lama membuat resah. Bahkan oleh kaum pribumi logi-logi Freemason disebut sebagai Rumah Setan di mana mereka selalu melakukan ritual kaum Freemason seperti pemanggilan arwah orang mati.

Lama-kelamaan hal ini mengusik istana. Sehingga pada Maret 1950, Presiden Soekarno memanggil tokoh-tokoh Freemason Tertinggi Hindia Belanda yang berada di Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas-Menteng) untuk mengklarifikasi hal tersebut.

Awal tahun 1937, Suhu Agung Belanda, H. van Tongeren, mengadakan kunjungan keliling ke loji-loji di Hindia Belanda. Gambar kunjungan ke Loji Batu Kunci (De Hoeksteen) di Sukabumi.

Di depan Soekarno, tokoh-tokoh Freemason mengelak dan menyatakan jika istilah Setan mungkin berasal dari pengucapan kaum pribumi terhadap Sin Jan (Saint Jean) yang merupakan salah satu tokoh suci kaum Freemason. Walau mereka berkelit, namun Soekarno tidak percaya begitu saja.

Akhirnya pada Februari 1961, lewat Lembaran Negara nomor 18/1961, Presiden Soekarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemason di Indonesia. Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemason dan segala derivatnya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Club, dan Bahaisme. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara.

“Bung Karno beralasan, asas dan tujuan lembaga-lembaga tersebut tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia. Bung Karno menyatakan, keberadaan logi Freemason dan enam organisasi lainnya dapat menghambat penyelesaian revolusi dan bertentangan dengan sosialisme yang dimaksudkan Penetapan Presiden Nomor 2 Tahun 1962,” terang Bagus.

Namun 38 tahun kemudian pada saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih menjadi presiden Indonesia ketiga, Keppres nomor 264/1962 dicabut dan diganti dengan Keppres nomor 69 tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000.

Sejak itulah, keberadaan kelompok-kelompok Yahudi seperti Organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Lions Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren-Loge (Loge Agung Indonesia) atau Freemasonry Indonesia, Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization Of Rosi Crucians (AMORC) dan Organisasi Baha’i menjadi resmi dan sah kembali di Indonesia.

Soemitro Kolopaking dikukuhkan menjadi Suhu Agung pertama Loge Agung Indonesia atau tarekat rahasia Freemason pada tahun 1955.

Di era kebebasan informasi yang mutakhir seperti sekarang, kata Bagus, rahasia-rahasia perencanaan busuk dari kelompok ini mulai terlihat. Tugu Demokrasi di kantor DPRD Kabupaten Madiun merupakan membuktikan eksistensi mereka.

“Bisa jadi itu merupakan tanda. Pembuatnya ingin memastikan bahwa Freemason di Indonesia sudah berkuasa kembali. Dia melabeli dengan tanda. Ini bisa dibilang sangat berbahaya bagi kedaulatan NKRI,” ujar Bagus.

Dikatakan Bagus, memang tidak ada larangan bagi Freemason berkembang di Indonesia, apalagi di wilayah Kabupaten Madiun atau daerah-daerah lain. Sebab organisasi Freemason sendiri belum pernah ‘terbukti’ melakukan pengkhianatan terhadap negara seperti yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun demikian, tetap saja keberadaannya harus diwaspadai.

“Sudah ada banyak penentang Freemason dari seluruh penjuru dunia, dari berbagai ras maupun agama. Mereka sangat menjaga jarak dengan kelompok ini. Anggota kelompok freemason terkenal dengan kesantunan dan kebaikannya dalam banyak hal, namun justru inilah strategi perilaku (behavior) mereka untuk membuat simpati semua kalangan,” urai Bagus.

Dengan perilaku sopan dan santun serta baik tersebut justru membuat orang tak percaya jika kelompok ini adalah kelompok satanic yang fahamnya bersebrangan dengan kelompok beragama, apapun agamanya. Namun mereka yang masuk kelompok ini, selama mereka bukan turunan Yahudi maka mereka tidak pernah tahu kalau mereka juga halal untuk dibunuh karena mereka hanyalah “goyim” (turunan monyet). Ya, anggota Freemason merasa diri adalah manusia sejati.

Doktrin Khams Qanun Penghancur Pancasila

Ada banyak tudingan dari kelompok-kelompok penggemar teori konspirasi seputar Freemason, Illuminati, Anti-Kristus, dan sebagainya. Mereka menyebut ideologi dasar Indonesia yakni Pancasila bukan murni hasil olahan anak negeri, melainkan meniru asas Freemason.

Berbagai propaganda ini dilakukan supaya rakyat meninggalkan bentuk negara dan sistem pemerintahan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, sambil mengelukan serta mengusung ideologi Negara Islam. Entah dengan berkedok organisasi dan atas nama apapun, yang telah banyak disebarluaskan di Indonesia.

Saking kuatnya cengkraman Freemason di Indonesia, telah menghapuskan 7 kata sakral dari piagam Jakarta sebagai cikal bakal Pancasila, dan menjadikan Pancasila sebagai poros ideologi sekuler utama untuk Indonesia. Termasuk dengan bentuk NKRI yang telah final ini ialah hasil rekayasa kesesatan yang sangat gamblang.

Ada banyak organisasi kerap menyamakan asas Freemason dengan Pancasila. Kata Bagus, mereka kerap menyebut doktrin-doktrin Freemason seperti Khams Qanun sama dengan Pancasila.

Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas-Menteng).

“Seperti ditulis dalam banyak literasi, asas Khams Qanun terdiri dari lima, yaitu monoteisme (ketuhanan yang maha esa), nasionalisme (berbangsa, berbahasa, dan bertanah air satu Yahudi), humanisme (kemanusiaan yang adil dan beradab bagi Yahudi), demokrasi (dengan cahaya Talmud suara terbanyak adalah suara tuhan), dan sosialisme (keadilan sosial bagi setiap orang Yahudi). Hampir sama bukan, tapi ini bagian dari bentuk penyelewengan terhadap Pancasila,” tutur Bagus.

Sebagai derivasi gerakan Zionisme internasional, doktrin Freemason melalui Khams Qanun ini diilhami Kitab Talmud. Tokoh-tokoh pergerakan di Asia Tenggara juga merujuk pada Khams Qanun dalam merumuskan dasar dan ideologi negaranya. Misalnya, tokoh China Dr. Sun Yat Sen, dasar dan ideologi negaranya dikenal dengan San Min Chu I, terdiri dari: Mintsu, Min Chuan, Min Sheng, nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme.

Asas Katipunan Filipina yang dirumuskan oleh Andreas Bonifacio, 1893, dengan sedikit penyesuaian terdiri dari: nasionalisme, demokrasi, ketuhanan, sosialisme, humanisme.

Begitu pun, Pridi Banoyong dari Thailand, 1932, merumuskan dasar dan ideologi negaranya dengan prinsip: nasionalisme, demokrasi, sosialisme, dan religius.

Sedangkan Bung Karno juga disebut mereka, pada mulanya merumuskan ideologi dan dasar negara Indonesia yang disebut Panca Sila terdiri dari: nasionalisme (kebangsaan), internationalisme (kemanusiaan), demokrasi (mufakat), sosialisme, dan ketuhanan.

Bagus menyebut, inilah prinsip-prinsip indoktrinasi ala Zionisme, memang cukup fleksibel. Pancasila dianggap sama dengan Khams Qanun. “Padahal kalau kita konsisten dengan ideologi Pancasila, isinya jelas sangat berbeda. Usia Pancasila lebih tua dari Khams Qanun. Karena itu kita wajib mewaspadai gerakan Freemason di Indonesia. Gerakan mereka memang tidak seperti komunis. Freemason memiliki target untuk merusak ideologi negara dari dalam. Dan saat ini yang ditakuti oleh Yahudi adalah Pancasila,” tegas Bagus.

Ditambahkan Bagus, tujuan Freemason di Indonesia sebenarnya mudah diketahui meskipun struktur organisasinya sangat teratur dan rahasia. Secara umum tujuan-tujuan pokok Freemason adalah menghapus semua agama, menghapus sistem keluarga, mengacaukan sistem politik dunia seperti yang saat ini dilakukan Presiden AS Trump dengan mengeluarkan statemen bahwa Yerusalem adalah Ibukota Israel.

Selain itu, kelompok Freemason selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia. Merusak kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau goyim. Dalam gerakannya, Freemason menggunakan tangan-tangan cendekiawan dan hartawan goyim, tetapi di bawah kontrol orang Yahudi pilihan. Hasil dari gerakan ini di antaranya mencetuskan tiga perang dunia, tiga revolusi (Revolusi Prancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris), dan melahirkan tiga gerakan utama (Zionisme, Komunisme, dan Nazisme).

“Karena itu Pancasila oleh mereka dianggap sebagai ancaman. Untuk memasukkan paham-paham itu cukup sulit, apalagi sampai mengubah Pancasila. Jalan satu-satunya adalah dengan cara menyelewengkan Pancasila,” tutup Bagus.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here