Yang Unik dari Lapangan Yani Golf: Tidak Menyediakan Caddy Wanita

0
199

Nusantara.news, Surabaya – Sebagai salah satu sarana olah raga tertua di Indonesia Lapangan Yani Golf yang mempunyai luas 60 hektar ini banyak menyimpan kisah sejarah.

Walikota Risma Triharini mengungkapkan bahwa Surabaya mempunyai warisan sejarah yang tak bisa dilupakan keberadaannya. Bahkan Yani golf dianggap sebagai salah satu destinasi wisata didasarkan pada kentalnya nilai historis di area itu.

“Keinginan pemkot menjadikan lapangan golf Ahmad Yani sebagai salah satu destinasi wisata didasarkan pada kentalnya nilai historis di area itu. Berdiri sejak tahun 1898, lapangan golf legendaris tersebut seakan menjadi saksi bisu perkembangan zaman,” jelasnya beberapa waktu lalu saat penandatanganan perjanjian penyerahan, pengelolaan dan penggunaan tanah di lapangan golf Ahmad Yani Gunungsari.

Tri Rismaharini menyatakan, pihaknya dalam hal ini Dinas Pariwisata akan serius menggarap potensi wisata heritage lapangan golf. Sebab, lapangan yang sudah berusia seabad lebih itu perlu mendapat sentuhan perawatan yang lebih baik lagi.

“Nanti akan kami tambah jenis tanaman untuk ditempatkan di area lapangan golf. Tentunya dengan berkonsultasi dulu dengan pihak pengelola agar tanaman cocok dan tidak mengganggu. Diharapkan bisa memperindah estetika,” kata Risma.

Risma juga menegaskan bahwa lapangan golf Ahmad Yani dipastikan tidak akan berubah fungsi. Itu seiring ditekennya perjanjian antara Pemkot Surabaya dengan Persatuan Golf Ahmad Yani (PGAY).

Dalam perjanjian yang diteken Wali Kota Surabaya dan Ketua Umum PGAY, Abdul Hamid tersebut disepakati bahwa area seluas lebih kurang 59 hektare itu akan tetap berfungsi sebagai lapangan golf dan ruang terbuka hijau (RTH). Poin lain yang juga disebut dalam perjanjian adalah sertifikat tanah lapangan golf Ahmad Yani diatasnamakan Pemkot Surabaya. Sedangkan pengelolaan tetap pada PGAY.

“Langkah ini sebagai bentuk upaya mempertahankan dan melestarikan lapangan golf Ahmad Yani. Pengelolaan yang dilakukan PGAY hanya untuk lapangan golfnya saja. Adanya perjanjian juga sekaligus memastikan lapangan golf ini tidak akan berubah fungsi,” kata Abdul Hamid.

Maklum, begitu tuanya, masih ada beberapa pohon –yang usianya juga sudah tua– masih berdiri kukuh di sana. Konon tidak ada yang berani menebang pohon-pohon tersebut. Salah satunya adalah pohon trembesi berusia 40 tahun dan pohon sosis (Kigelia Pinnata) yang berusia 60 tahun. Jika beruntung, para golfer bisa menemukan ayam alas yang sesekali menampakkan diri.

“Menu makanan di Yani Golf tidak seperti restauran pada umumnya. Kami sajikan semua serba tradiisonal mulai dari jangan asem khas Jawa Timur dan juga sambelan ikan wader kecil-kecil, hemm bisa menggugah selera,” tambah Hamid.

Tak hanya itu, fasilitas lain yang mendukung adanya driving range untuk latihan meningkatkan skill dan teknik bermain. Bahkan saat ini lapangan ini juga dilengkapi dengan lampu penerangan agar dapat dimanfaatkan jika ada golfer yang ingin berlatih hingga malam hari.

“Driving range bisa disebut rumah kedua para penghobi golf. Buka pukul 06.00 hingga 21.00. Driving range memiliki fasilitas sendiri yang terpisah dari Club House. Di sini ada kafe. Tapi, menunya kejutan. Suka-suka tukang masaknya. Tamu tidak disodori buku menu, Maklum, biasanya di mana-mana pembeli akan bertanya pada pelayan, masak apa hari ini,” ungkapnya.

Tidak lengkap rasanya membahas lapangan golf tanpa membicarakan caddy. Biasanya, ketika menyebut kata caddy, yang terbayang adalah sekumpulan perempuan cantik dengan postur proporsional yang menjadi asisten para pemain golf. “Mau cari caddy? Di sini ada caddy lebih dari 100 orang. Semuanya nggak pakai BH,” ucap Hamid lantang.

Itulah uniknya. Semua caddy di Yani Golf adalah pria. Lapngan golf ini juga tidak menyediakan golf car yang stand by mengantar para pemain berpindah dari satu lapangan ke lapangan lain. Para pemain diharuskan berjalan kaki. “Kalau caddy perempuan, kasihan disuruh jalan kaki. Apalagi sambil bawa tas berisi satu set alat golf yang beratnya bisa mencapai 10 kg,” ungkapnya.

Selain bersejarah, banyak golfer andal di Indonesia lahir dari Yani Golf. Uniknya semua pernah menjadi caddy atau asisten golfer yang setiap saat bisa melayani di lapangan saat bermain. “Sebut saja golfer handal Indonesia Kasiadi yang pernah menjajaki turnamen kelas internasional. Beliau sebelum sukses merupakan caddy di Yani Golf,” pungkasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here