Zainudin Amali Ketua DPD I Golkar Jatim Gantikan Nyono

0
40
"Zainudin Amali gantikan Nyono Suharli, jabat Ketua DPD Partai Golkar Jatim"

Nusantara.news, Surabaya – Zainudin Amali, anggota DPR RI dipercaya kendalikan Partai Golkar Jawa Timur, pasca Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur Nyono Suharli Wihandoko dicokok oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terkait dugaan suap perizinan dan pengurusan penempatan jabatan di Pemerintah Kabupaten Jombang. Nyono ditangkap Sabtu (3/2/2018), malam.

Sebagai penggantinya, DPP Partai Golkar menunjuk Zainudin sebagai pelaksana tugas (Plt), untuk jabatan Ketua DPD Golkar Jawa Timur. Penetapan nama Zainudin itu setelah dilakukan setelah digelar rapat koordinasi internal di DPP Partai Golkar di Jakarta, Selasa (6/2/2018).

“DPP Partai Golkar menetapkan Zainudin Amali Ketua Bidang PP (pemenangan pemilu) wilayah Jawa Timur, sebagai Plt Ketua DPD Partai Golkar Jatim,” kata Sekjen DPP Partai Golkar, Lodewijk F Paulus, di Jakarta.

Zainudin Amali, selain bertugas sebagai Ketua DPD Golkar Jatim untuk menjalankan fungsi partai. Juga melaksanakan tugas untuk memenangkan Pilkada di kabupaten/kota di Jatim serta Pemilu 2019.

“Saudara Zainudin Amali diminta untuk melaksanakan tugas sebagaimana poin dua, serta memimpin Partai Golkar Jawa Timur dalam rangka persiapan pemenangan Pilkada Provinsi Jawa Timur dan Pilkada di kabupaten/kota se-Jatim,” tegas Lodewijk.

Zainudin Amali dan Kiprahnya

“Zainudin Amali, dipercaya kendalikan Partai Golkar Jawa Timur, setelah Ketua DPD Golkar Jawa Timur Nyono Suharli dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi”

Nama Zainudin Amali tidak asing lagi di depan semua kader Golkar di Jatim, lantaran politikus asal Gorontalo itu juga pernah mengemban jabatan yang sama sebagai Plt, yang kemudian dikukuhkan menjadi ketua. Tak lama duduk di kursi DPD, Zainudin kembali aktif ke DPP, dan pernah menjabat Sekjen Partai Golkar, 2014-2015.

Menapaki partai politik diawali setelah sukses sebagai pengusaha, dan memilih bergabung dengan partai berlambang Pohon Beringin di daerah asalnya, Provinsi Gorontalo. Sepanjang perjalanannya di Partai Golkar, ia tiga kali menjadi anggota DPR dengan daerah pemilihan yang berbeda-beda.

Baca juga: Badan Advokasi Partai Golkar Siap Beri Bantuan Hukum 

Sedikit latar belakang tentang dia, Zainudin Amali lahir di Gorontalo, 16 Maret 1962. Dari hasil pernikahan dengan Nadiah, mereka dikaruniai seorang anak.

Perjalanan masa sekolahnya ditempuh dengan berpindah-pindah. Sekolah Dasar (SD) hingga tamat diselesaikan di SDN Bagu, Gorontalo. Selanjutnya untuk SMP dan SMA diselesaikan di Manado. Kemudian, setelah tamat SMA, dia ke Jakarta dan menyelesaikan kuliahnya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Swadaya Jakarta, dengan gelar sarjana ekonomi di usia 30 tahun.

Organisasi Kampus Berlanjut ke Partai Politik

“Zainudin Amali, dari organisasi kampus berlanjut hingga ke partai politik”

Sejak menjadi mahasiswa, Zainudin Amali aktif di berbagai jenis organisasi. Dia pernah menjadi Ketua Bakornas Lembaga Pers Mahasiswa Islam pada 1986-1987, Ketua Senat Mahasiswa STIE Swadaya di periode tahun 1988-1990, dan juga pernah menjadi Ketua Umum DPP Gema Kosgoro. Juga pernah menjabat Wakil Sekjen DPP REI, Wakil Sekjen PP AMPG. Pernah menjadi Wakil Sekretaris Partai Golkar, Ketua DPP AMPI.

Karier politik lelaki ini mulai terlihat saat dia menjadi anggota DPR dari Partai Golkar, tiga kali berturut-turut dari daerah pemilihan yang berbeda. Tercatat, pernah menjadi anggota DPR RI di periode jabatan 2004-2009 dari daerah pemilihan Provinsi Gorontalo. Kemudian di periode 2009-2014 mewakili daerah pemilihan Jawa Timur, dan untuk periode 2014-2019 mewakili daerah pemilihan Madura.

Di Partai Golkar kariernya tergolong moncer. Pada 2013, Zainudin Amali dipercaya sebagai Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie untuk memimpin Golkar Jawa Timur. Dalam perjalanannya, menjelang digelar Musyawarah Nasional (Munas) Golkar 2014, Zainudin Amali kemudian memilih mengikuti Munas Ancol ketimbang Munas Golkar di Bali. Di Munas Golkar Bali, Aburizal Bakrie terpilih sebagai ketua umum dan Idrus Marham dipercaya menjabat Sekjen. Sementara hasil Munas Ancol terpilih Agung Laksono dan Zainudin Amali.

Biodata Zainudin Amali

Tempat Lahir : Gorontalo
Tanggal Lahir : 16/3/1962

Pendidikan :

SDN Buhu, Gorontalo, Tahun 1975
SMPN I Manado, Tahun 1979
SMAN IV Manado, Tahun 1982
STIE Swadaya Jakarta, Tahun 1992

Rumah Tinggal : Rumah Jabatan Anggota DPR RI Blok E-2 No. 378, Kalibata, Jakarta Jabatan : Anggota DPR RI Partai Golkar, Dapil Jawa Timur XI,
Komisi : Komisi II DPR RI, Pemerintahan Dalam Negeri & Otonomi Daerah, Aparatur & Reformasi Birokrasi, Kepemiluan, Pertanahan & Reforma Agraria

Prestasi : Wakil Sekretaris BIK Partai Golkar, Tahun 2002-2004; Ketua DPP AMPI, 2003-2008; Anggota DPR RI 2004-2009, 2009-2014, 2014-2019. Ketua DPD Golkar Jawa Timur, 2013; Sekjen Partai Golkar 2014-2015.

Perjalanan Organisasi :

Ketua Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Bakornas LAPMI) PB HMI, Tahun 1986-1987
Ketua Senat Mahasiswa STIE Swadaya, Tahun 1988-1990
Ketua Umum DPP Gema Kosgoro, Tahun 1994-1998
PT Supra Dina Karya, Jakarta, Tahun 1993-2000
PT Makmur Triagung, Jakarta, Tahun 1996-1998
PT Surya Terang, Jakarta, Tahun 1997-1998
PT Wirabuana Dwijaya Persada, Jakarta, Tahun 1997-1998
Wakil Sekjen DPP REI, Tahun 1998-2001
Wakil Sekjen PP AMPG, Tahun 2002-2004
Wakil Sekretaris BIK Partai Golkar, Tahun 2002-2004
Ketua DPP AMPI, Tahun 2003- 2008

Karir Nyono Suharli

“Karir Nyono berkibar setelah terpilih menjadi Ketua DPD Golkar Jawa Timur, di pemilihan 17 April 2016”

Sementara, karir Nyono Suharli diprediksi akan tamat setelah dia menyandang status tersangka oleh KPK, terkait dugaan melakukan tindak pidana korupsi.
Nyono Suharli mengawali karirnya dari nol alias dari bawah. Awalnya, menjabat Kepala Desa Sepanyul, Kecamatan Gudo, Jombang, tahun 1990, yang berlanjut hingga beberapa periode. Hingga kemudian jabatan kepala desa itu beralih ke istrinya, Tjaturina Yuliastuti.

Setelah tidak lagi menjabat kepala desa, lelaki berkumis itu menapaki panggung politik. Hingga kemudian namanya berhasil muncul sebagai Wakil Ketua DPRD Jombang periode 2008-2013.

Baca juga: Janji Calon Kepala Daerah, Catat dan Tagih Jika Ingkar

Dalam catatan yang ada, Nyono pernah sempat maju di pemilihan Bupati Jombang, tahun 2008 berpasangan dengan Abdul Halim Iskandar (Ketua DPRD Jatim dari PKB). Namun, pasangan Nyono-Halim yang diusung PKB kalah dari pasangan Suyanto-Widjono yang diusung PDI Perjuangan.

Periode lima tahun berikutnya yakni 2013, Nyono kembali maju di pemilihan Bupati Jombang untuk kedua kali, berpasangan Munjidah Wahab dari PPP yang juga Ketua PC Muslimat NU Jombang.

Pasangan Nyono-Munjidah unggul atas pasangan Widjono Suparno-Sumrambah dari PDI Perjuangan dan pasangan Munir Al Fanani-Wiwik Nuriati yang diusung PKB. Pasangan Nyono-Munjidah kemudian dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Jombang untuk periode jabatan 2013-2018. Jabatan sebagai kepala daerah baru akan mengakhiri pada 24 September 2018.

Nama Nyono semakin berkibar setelah terpilih jadi Ketua DPD Golkar Jawa Timur, di pemilihan 17 April 2016 di Surabaya. Kemudian, Nyono kembali mengadu untung dengan maju di pemilihan Bupati Jombang 2018, mendatang. Dia pecah kongsi dengan Munjidah, Wakil Bupati Jombang. Kali mendatang ini, Nyono mesra dengan menggandeng Subaidi Muchtar kader PKB. Pasangan Nyono- Subaidi diusung Partai Golkar (7 kursi), PKB (8), PKS (5), NasDem (4) dan PAN (3). Sementara, pasangan Munjidah Wahab-Sumrambah diusung tiga gabungan partai politik yakni, PPP (4 kursi), Partai Demokrat (6) dan Gerindra (2).

Namun, garis nasib mengatakan lain, sebelum penetapan pasangan calon oleh KPU Jombang, Nyono dicokok petugas dari lembaga antirasuah. Dan ditetapkan tersangka oleh KPK menyusul Kepala Dinas Kesehatan Jombang, dr Inna Sulistyowati, terkait dugaan suap perizinan dan pengurusan penempatan jabatan di Pemerintahan Kabupaten Jombang.

Sejarah Berdirinya Partai Golkar

“Partai Golkar bermula pada tahun 1964 dengan berdirinya Sekber Golkar di masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno. Sekber Golkar didirikan oleh golongan militer, khususnya perwira Angkatan Darat”

Sejarah Partai Golkar bermula pada tahun 1964 dengan berdirinya Sekber Golkar di masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno. Sekber Golkar didirikan oleh golongan militer, khususnya perwira Angkatan Darat ( seperti Letkol Suhardiman dari SOKSI) menghimpun berpuluh-puluh organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh, tani, dan nelayan dalam Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).

Sekber Golkar didirikan pada tanggal 20 Oktober 1964. Sekber Golkar ini lahir karena rongrongan dari PKI beserta ormasnya dalam kehidupan politik baik di dalam maupun di luar Front Nasional yang makin meningkat. Sekber Golkar ini merupakan wadah dari golongan fungsional/golongan karya murni yang tidak berada dibawah pengaruh politik tertentu. Terpilih sebagai Ketua Pertama Sekber Golkar adalah Brigadir Jenderal (Brigjen) Djuhartono sebelum digantikan Mayor Jenderal (Mayjen) Suprapto Sukowati lewat Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I, Desember 1965.

Jumlah anggota Sekber Golkar ini bertambah dengan pesat, karena golongan fungsional lain yang menjadi anggota Sekber Golkar dalam Front Nasional menyadari bahwa perjuangan dari organisasi fungsional Sekber Golkar adalah untuk menegakkan Pancasila dan UUD 1945. Semula anggotanya berjumlah 61 organisasi yang kemudian berkembang hingga mencapai 291 organisasi.

Organisasi-organisasi yang terhimpun ke dalam Sekber GOLKAR, kemudian dikelompokkan berdasarkan kekaryaannya ke dalam tujuh Kelompok Induk Organisasi (KINO), yaitu:
1. Koperasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO)
2. Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI)
3. Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR)
4. Organisasi Profesi
5. Ormas Pertahanan Keamanan (HANKAM)
6. Gerakan Karya Rakyat Indonesia (GAKARI)
7. Gerakan Pembangunan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here