Zakat, Penggerak Ekonomi Umat

0
77
Zakat mampu mengentaskan kemiskinan dimasa Umar bin Abdul Azis

Nusantara.news, Jakarta – Baginda Nabi Muhammad saw mengatakan, zakkuh maaluhu bi zakkah. Bersihkan hartamu dengan zakat (HR Bukhari). Pada awal mula zakat diperintahkan oleh Nabi motifnya adalah untuk membersihkan harta benda para sahabat.

Karuan saja, para sahabat sami’na wa atha’na, begitu mendengar segera melaksanakan atas perintah Nabi tersebut. Perintah berzakat dengan motif membersihkan harta benda memang masuk akal, karena 80% sahabat Nabi ketika itu adalah pedagang, dimana mereka memperoleh harta benda dari proses perdagangan. Sehingga ketika Nabi memerintahkan membayar zakat, serta merta sahabat mengerti dan melaksanakan perintah tersebut.

Dalam sejarah disebutkan bahwa Abubakar Siddiq mensedekahkan 100% hartanya. Umar bin Khatthab mensedekahkan 50% hartanya di jalan Allah, sementara Usman bin Affan menyisihkan 25% dari jumlah kekayaannya. Belum lagi konglomerat Abdurrahman bin Auf menyediakan berapapun hartanya yang dibutuhkan untuk perjuangan dakwah Rasulullah saw.

Begitulah kecintaan para sahabat terhadap Islam, terhadap amanah dakwah yang digerakkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Hingga satu periode ada sahabat yang malas, bahkan menolak membayar zakat, sehingga Allah menurunkan surat At Taubah ayat 103, yang berbunyi: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Begitulah suasana zakat di masa Rasulullah dan para sahabat. Al Quran dalam surat At Taubah ayat 60 membagi dana zakat itu digunakan untuk kepentingan 8 asnaf (para mustahik). Mereka adalah fakir (orang tak punya harta dan pendapatan), miskin (orang berpendapatan tapi tak cukup untuk biaya hidupnya), amil (panitia), muallaf (baru masuk islam), riqab (budak), gharimin (orang yang berhutang), fii sabilillah (pejuang di jalan Allah), dan ibnu sabil (dalam perjalanan).

Sementara sejarah mencatat, di masa cucu Umar bin Khattab, yakni Umar bin Abdul Azis, Islam menguasai 2/3 dunia secara damai. Pada saat itu digambarkan zakat, infaq dan shodaqoh terkumpul dan terkelola dengan baik. Sampai-sampai tidak ada lagi orang miskin karena para sahabat saat itu tak ada yang menjadi mustahik dari 8 asnaf tersebut. Inilah era keemasan manusia, dimana angka kemiskinan nyaris mendekati 0%.

Jadi, zakat, infaq dan shodaqah menjadi kunci kesejahteraan ummat manusia pada masa Umar bin Abdul Azis. Sejak itu tak pernah lagi terulang, setelah peperangan melanda manusia, penjajahan menjadi model penguasaan wilayah, kemiskinan menjadi masalah manusia hingga hari ini.

 

Lantas, bagaimana dengan pengelolaan zakat di Indonesia? Sejak awal  Islam masuk ke Nusantara, zakat telah dipraktekkan, dengan didorong oleh dua institusi keagamaan terpenting seperti: masjid dan pesantren, sekolah.

Saat ini sudah ada lembaga khusus yang mengurusi zakat, yaitu Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Baznas bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat kepada pihak-pihak yang berhak untuk menerimanya. Lalu amil zakat mencari pihak yang berhak menerima zakat.

Sebelumnya pengelolaan zakat di Indonesia terpisah-pisah dan belum terkoordinasi secara rapih. Sehingga Dompet Dhuafa, Aksi Cepat Tanggap, Bazis DKI, Lazis Muhammadiyah, Lazisnu dan lainnya. Sekarang semua lembaga pengelola zakat tersebut mengacu pada Baznas, dan lembaga-lembaga yang ada bertindak sebagai satelit yang lazim disebut sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ).

Menurut Ketua Baznas Bambang Sudibyo, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp286 triliun. Namun, pada 2015 jumlah penerimaan zakat baru terealisasi sebesar Rp3,7 triliun. Sementara pada 2016 meningkat menjadi Rp5 triliun.

Potensi zakat sangat besar, penelitian pada 2011 oleh ITB mengungkap potensi di tahun 2010 adalah Rp217 trilun. Dengan perhitungan PDB, potensi di tahun 2015 menjadi Rp286 triliun. Namun, penghimpunan zakat masih rendah, pada 2015 baru Rp3,7 triliun atau 1,3% dari PDB.

Bambang berharap potensi itu kini meningkat hingga Rp400 triliun pada 2017 seiring makin meningkatnya jumlah ummat Islam dan perekonomian ummat. Dia juga berharap potensi pengumpulan pajak juga bisa digenjot hingga Rp7 triliun pada tahun ini.

Dari mana saja potensi itu dapat diperoleh? Potensi zakat yang besar ini berasal dari banyaknya pegawai di perusahaan BUMN, swasta dan pegawai negeri sipil. Jumlah BUMN sebanyak 144 perusahaan, dan jumlah PNS mencapai  4 juta jiwa dan 19 jutaan karyawan swasta.

“Saat ini, masih banyak masyarakat yang belum tahu manfaat zakat yang akan disalurkan kepada warga miskin sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka,” jelas mantan Menteri Keuangan di era Gus Dur tersebut.

Adapun jumlah penerimaan zakat yang diharapkan Rp7 triliun pada 2017 itu, 80% berasal dari zakat, dan sisanya 18,18% berasal dari infaq, dan sisanya 1,12% berasal dari shodaqah.

Dana yang terkumpul tersebut, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, rencananya akan disalurkan dalam Bidang Sosial 16,6%, Bidang Pendidikan 7,8%, Bidang Kesehatan 4,9%, Bidang Ekonomi 69.34%, dan Bidang Keagamaan sebesar 1,25%.

Ke depan, Baznas perlu memodifikasi pola-pola pengumpulan dana zakat agar lebih optimal. Termasuk penggunaannya bisa lebih luas sesuai 8 asnaf yang diamanatkan dalam Al Quran.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here